SURABAYA ( Kabarjawatimur) — Persoalan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di PAUD Kuncup Kenanga, Wiyung Tengah, RT 2/RW III, Kelurahan Wiyung, Kecamatan Wiyung, Surabaya, memasuki babak baru. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Taman Pondok Indah (TPI) Wiyung menyatakan akan mengusut bagaimana makanan yang disebut seharusnya didistribusikan menggunakan ompreng justru sampai ke penerima dalam kemasan kertas minyak.
Temuan tersebut sebelumnya menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur. Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti persoalan tersebut dengan melakukan pengecekan langsung di Kelurahan Wiyung.
Menurut Teguh, berdasarkan evaluasi yang dilakukan, distribusi MBG dari SPPG TPI Wiyung menuju balai RW masih menggunakan ompreng.
“Perihal ini sudah kami tindak lanjuti secara langsung. Kebetulan saya sendiri hadir di kantor kelurahan tersebut. Dari SPPG, setelah kami evaluasi dan cek, pengiriman ke balai RW masih menggunakan ompreng,” kata Teguh.
Pernyataan tersebut justru menyisakan pertanyaan. Jika makanan dari SPPG dikirim menggunakan ompreng, bagaimana kemudian makanan tersebut bisa diterima warga dalam bentuk paket yang dibungkus kertas minyak?
Teguh meminta persoalan tersebut dikonfirmasi kepada pihak Kelurahan Wiyung.
“Coba ditanyakan ke pihak kelurahan. Kemarin kami sudah tahu jawabannya perihal ini,” ujarnya.
BGN juga menegaskan tidak akan memberikan toleransi apabila standar distribusi yang telah ditetapkan kembali diubah, khususnya jika ompreng diganti dengan kertas minyak.
“Ke depan kami tidak akan toleransi kalau ada yang mengganti kembali ompreng menjadi bungkus kertas minyak,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Wiyung Achmad Mardjuki, S.Sos., M.M., saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut belum memberikan penjelasan resmi.
Terpisah, Pengelola SPPG TPI Wiyung Surabaya, Agung Karunia Zebua, mengatakan pihaknya turut menaruh perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Ia menyebut kasus itu akan dikoordinasikan melalui tiga pilar, yakni unsur TNI, Polri, dan pemerintah.
Agung juga membantah apabila SPPG TPI Wiyung menggunakan kertas minyak sebagai kemasan dalam pendistribusian MBG.
“Kami juga ingin mengusut terkait persoalan tersebut,” ucapnya.
Menurut Agung, pihaknya perlu mengetahui secara jelas proses distribusi makanan tersebut, termasuk pada tahapan setelah makanan dikirim dari SPPG hingga diterima oleh penerima manfaat.
Persoalan ini mencuat setelah pada Rabu, 12 Agustus 2026, seorang kakek menerima paket MBG untuk cucunya yang bersekolah di PAUD Kuncup Kenanga.
Paket makanan tersebut disebut hanya menggunakan kertas minyak sebagai pembungkus. Isinya berupa nasi putih, satu telur ceplok, tiga tahu goreng, capcay yang dibungkus plastik, serta tiga buah kelengkeng yang dibungkus menggunakan kertas minyak tanpa dipisahkan.
Selain persoalan kemasan, penerima juga menyebut paket tersebut tidak dilengkapi air minum maupun susu kemasan.
“Saya kaget mendapatkan menu MBG seperti itu. Isinya nasi putih, satu telur ceplok, tiga tahu goreng, capcay yang dibungkus plastik, dan tiga buah kelengkeng. Air minum juga tidak ada, apalagi susu,” ujar narasumber.
Keluarga penerima kemudian melaporkan temuan tersebut kepada Kelurahan Wiyung. Mereka selanjutnya dipertemukan dengan pengelola SPPG dan Koordinator BGN Jawa Timur untuk membahas persoalan distribusi tersebut.
Kini, persoalan tidak hanya menyangkut bentuk kemasan makanan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang melakukan perubahan dari ompreng menjadi kertas minyak dan pada tahapan mana perubahan tersebut terjadi.
SPPG TPI Wiyung menyatakan akan menelusuri persoalan tersebut. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan standar penyediaan dan distribusi MBG berjalan sesuai ketentuan serta mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Dengan adanya pernyataan BGN bahwa pengiriman dari SPPG masih menggunakan ompreng, publik kini menunggu penjelasan pihak-pihak yang terlibat mengenai asal-usul paket MBG yang diterima peserta didik PAUD Kuncup Kenanga tersebut.

