GRESIK, (Kabarjawatimur.com) – Upaya menjaga kelestarian pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan terus dilakukan di Kabupaten Gresik. Salah satunya melalui kolaborasi PT Smelting dengan Pemkab Gresik dalam konservasi mangrove.
Kolaborasi itu ditandai dengan penanaman 10.000 bibit mangrove di Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu, Gresik, Selasa (11/8/2026). Kegiatan itu sekaligus menjadi kick off Program Konservasi Mangrove bertajuk “Pesisir Lestari – Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang” dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026.
Penanaman mangrove tersebut merupakan tahap awal dari komitmen PT Smelting untuk menanam total 30.000 mangrove di wilayah Gresik. Program ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan pesisir.
Presiden Direktur PT Smelting, Dharma Djojonegoro, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kontribusi perusahaan yang telah tumbuh bersama masyarakat Gresik selama tiga dekade.
“Gresik ini sudah merupakan rumah kami. Jadi kami ingin membantu bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah desa untuk menjaga lingkungan ke depan. Oleh karena itu, kami menanam mangrove ini supaya bisa mengamankan generasi mendatang,” kata Dharma.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengapresiasi langkah PT Smelting dalam mendukung konservasi mangrove di wilayah pesisir. Dia menyebut, kawasan mangrove di Randuboto kini berkembang menjadi area konservasi terintegrasi dengan luas lebih dari 200 hektare. Kondisi tersebut tidak lepas dari penataan lingkungan serta sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pihak swasta.
“Alhamdulillah di sini terjaga dengan baik. Peran sudah dilaksanakan secara terintegrasi, baik pemerintah Kabupaten Gresik, pemerintah desa, maupun corporate PT Smelting Gresik yang fokus terhadap CSR untuk pelestarian mangrove di Desa Randuboto,” ujar Gus Yani.
Gus Yani mengatakan keberadaan mangrove memiliki fungsi penting bagi wilayah Gresik yang memiliki garis pantai sekitar 180 kilometer. Selain menjaga ekosistem dan melindungi kawasan pesisir, hutan mangrove dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya nelayan.
Ia berharap keberadaan kawasan mangrove dapat mendorong peningkatan hasil tangkapan ikan dan kepiting sehingga berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat pesisir.
“Kami berharap ada dampak yang berkelanjutan. Kemiskinan di daerah pesisir, khususnya nelayan, akan terus turun dan kesejahteraannya meningkat. Dari hasil tangkapan ikan, mereka bisa mendapatkan penghasilan setiap hari dari hutan mangrove tersebut,” ujarnya.
Menurut Gus Yani, ekosistem mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut, termasuk kepiting. Bahkan, sebagian pasokan kepiting ke Surabaya berasal dari wilayah Gresik.
“Kelestarian ikan kemudian kepiting ini juga bisa kita lihat. Banyak suplai kepiting yang ada di Kabupaten Gresik, di Kota Surabaya itu rata-rata kepitingnya dari Gresik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Randuboto Andhi Sulandra menyampaikan apresiasi kepada PT Smelting yang telah memilih wilayahnya sebagai lokasi program konservasi mangrove.
Ia berharap sinergi antara pemerintah dan perusahaan dalam menjaga lingkungan serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat desa dapat terus berlanjut.
Andhi juga mengapresiasi dukungan Bupati Gresik dalam program penataan kawasan kumuh, termasuk pembangunan rumah layak huni bagi warga Desa Randuboto.
“Kami berharap bentuk kepedulian dan sinergi ini akan terus ada untuk kemajuan desa ke depan,” kata Andhi.
Reporter : Azharil Farich

