SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Perebutan pengelolaan parkir di Spesial Soto Boyolali (SSB) Hj. Hesti Cabang Jalan Kenjeran memicu ketegangan antara Izul Fikri selaku Ketua PJS dengan warga RW 06 Kapasmadya, Surabaya.
Warga menolak pengelolaan parkir yang dinilai tidak melibatkan masyarakat sekitar. Mereka menilai area parkir usaha kuliner tersebut seharusnya dapat menjadi sumber pemberdayaan ekonomi bagi warga dan pemuda lokal di lingkungan setempat.
Persoalan itu kemudian dimediasi dalam rapat yang dipimpin Camat Tambaksari drh. Sunarna Aristono, M.Si. Turut hadir Kapolsek Tambaksari, Danramil Tambaksari, Lurah Kapasmadya Baru, pihak manajemen SSB Hj. Hesti, Izul Fikri bersama kuasa hukumnya, serta jajaran RW 06 dan RT setempat.
Namun hingga mediasi selesai, konflik perebutan pengelolaan parkir tersebut masih belum menemukan titik temu.
Warga yang didampingi LSM GRIB Jaya Surabaya tetap bersikukuh meminta pengelolaan parkir diprioritaskan bagi masyarakat sekitar demi menjaga kondusivitas lingkungan dan membuka peluang kerja bagi pemuda setempat.
Ketua DPD GRIB Jaya Surabaya Arifin atau yang akrab disapa Kaji Arifin menilai lurah dan camat seharusnya mampu mengakomodir aspirasi warga demi menjaga kondusivitas lingkungan di wilayah setempat. Ia menilai pemerintah wilayah perlu lebih tegas dan berpihak pada kepentingan masyarakat sekitar agar polemik yang terjadi tidak semakin meluas.
“Kami menyesalkan sikap lurah dan camat yang dinilai kurang tegas dan kurang berpihak kepada warga. Harusnya pemerintah wilayah bisa mengakomodir keinginan masyarakat demi menjaga kondusivitas lingkungan,” ujar Kaji Arifin.
Selain itu, GRIB Jaya Surabaya juga mendesak Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya segera melakukan pengecekan legalitas usaha dan pengelolaan parkir di lokasi tersebut.
Hingga kini, polemik perebutan parkir antara Izul Fikri selaku Ketua PJS dan warga RW 06 Kapasmadya masih terus berlangsung dan berpotensi berlanjut ke aksi demonstrasi apabila tidak segera ditemukan solusi.

