SURABAYA – Polemik moratorium izin diskotek dan tempat hiburan malam baru di Surabaya terus bergulir. Himpunan Pengusaha Rekreasi dan Hiburan Umum (Hiperhu) Kota Surabaya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak sekadar menghentikan penambahan RHU, tetapi mencari formula penataan yang lebih selektif dan terukur.
Ketua Hiperhu Kota Surabaya George Handiwiyanto bahkan mengusulkan agar Pemkot menyiapkan kawasan khusus untuk pusat rekreasi dan hiburan umum (RHU), yang lokasinya jauh dari permukiman warga.
Menurut George, pemusatan RHU di kawasan tertentu dapat menjadi solusi untuk mengurangi potensi gangguan terhadap masyarakat sekaligus memudahkan pemerintah melakukan pengawasan.
“Kalau mau ekstrem dan solutif, siapkan satu kawasan khusus, misalnya sekian ratus hektare yang jauh dari masyarakat, khusus untuk pusat RHU. Konsepnya seperti Las Vegas di Amerika,” ujar George, Selasa (6/10/2026).
George menegaskan konsep tersebut bukan dimaksudkan sebagai lokalisasi, melainkan pemusatan kegiatan hiburan di kawasan yang memang dirancang khusus sehingga pengawasan lebih mudah dilakukan.
Di sisi lain, Hiperhu mengkritik kebijakan moratorium penambahan RHU. Menurut George, pemerintah seharusnya menerapkan perizinan secara selektif dengan mempertimbangkan lokasi, desain bangunan, serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
“Lebih selektif dalam memberikan izin untuk meminimalisasi dampak, bukan melarang penambahan,” katanya.
Ia mencontohkan RHU baru dapat diarahkan ke kawasan pertokoan atau pusat komersial dengan desain fasad yang tidak terlalu mencolok sehingga tidak mengganggu lingkungan.
Soroti Kontribusi PAD
George juga mengingatkan bahwa sektor RHU memberikan kontribusi terhadap perekonomian Surabaya. Hingga Oktober 2026, sektor tersebut disebut telah menyumbang sekitar Rp12,77 miliar.
Menurutnya, dampak ekonomi RHU tidak hanya terlihat dari penerimaan daerah. Aktivitas usaha di sekitar lokasi hiburan juga ikut bergerak.
“Mulai dari usaha indekos, warung makan, penjual rokok, hingga layanan transportasi ojek. Semuanya ikut bergerak,” jelasnya.
Hiperhu juga meminta pemerintah mempertimbangkan keberadaan RHU sebagai sektor padat karya.
George menilai industri hiburan masih memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja di tengah perkembangan teknologi dan otomatisasi yang mulai mengurangi kebutuhan pekerja di sejumlah sektor manufaktur.
“RHU ini murni padat karya. Seharusnya pemerintah merawat sektor ini, bukan malah terus-terusan ditakut-takuti dengan ancaman penutupan,” tegasnya.
Dorong Pengawasan Alkohol Diperketat
Terkait persoalan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengunjung dalam kondisi terpengaruh minuman beralkohol, George mengatakan RHU besar di Surabaya telah memiliki SOP untuk mengantisipasi pengunjung yang tidak layak mengemudi.
Menurutnya, sejumlah tempat hiburan telah menyediakan sopir pengganti maupun layanan pengantaran bagi pengunjung.
Namun, ia mengakui penerapan sistem tersebut belum tentu merata di seluruh RHU, terutama tempat usaha berskala kecil.
Karena itu, George mendorong penggunaan alat pendeteksi kadar alkohol di setiap tempat hiburan.
“Kalau kadar alkoholnya tinggi, larang dia menyetir mobil sendiri. Itu baru solusi,” ujarnya.
Ia menilai penanganan persoalan RHU tidak seharusnya dilakukan secara hitam-putih, termasuk dengan langsung menyegel tempat usaha ketika terjadi persoalan.
George juga meminta Pemkot membedakan antara tempat hiburan yang telah memenuhi aturan dengan penjualan minuman beralkohol secara bebas di luar RHU.
“Kalau beli di toko bebas, orang bisa minum di mana saja. Ujung-ujungnya mabuk dan nabrak orang, lalu yang disalahkan seolah-olah diskotek,” katanya.
Hiperhu berharap Pemkot Surabaya membuka ruang dialog dengan organisasi pengusaha untuk mencari formulasi penataan RHU yang mampu menjaga kepentingan masyarakat, penerimaan daerah, investasi, sekaligus keberlangsungan tenaga kerja.
“Kami ini bukan pemberontak. Kami harap Pemkot mau merangkul organisasi. Duduk bersama, berikan masukan yang baik. Mari kita cari formulasi yang baik demi PAD kota dan nasib ribuan tenaga kerja di dalamnya,” pungkas George.

