SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan menginisiasi program “Sekolah Sampah” sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Program edukatif yang digelar pada Minggu, 24 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan materi teori sekaligus praktik pengolahan sampah, mulai dari perubahan perilaku masyarakat, teknik pengomposan, hingga pengelolaan sampah organik berbasis maggot.
Eri Irawan mengatakan persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui pengangkutan ke tempat pembuangan sementara (TPS) maupun tempat pembuangan akhir (TPA). Menurutnya, solusi utama harus dimulai dari lingkungan rumah tangga melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak awal.
“Masalah sampah harus diselesaikan berbasis sumber. Jika masyarakat terbiasa memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah, beban tempat pembuangan akhir bisa berkurang,” ujarnya.
Selain memberikan edukasi, program tersebut juga disertai penyaluran fasilitas pendukung berupa puluhan tempat penampungan botol plastik dan komposter sampah organik kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, timbulan sampah di Kota Surabaya saat ini mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan hampir 60 persen di antaranya merupakan sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur rumah tangga.
Karena itu, program “Sekolah Sampah” dirancang agar masyarakat tidak hanya memahami teori pengelolaan sampah, tetapi juga memiliki keterampilan teknis untuk mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Salah satu metode yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah pengomposan dan budidaya maggot yang dinilai mampu mempercepat proses penguraian sampah organik sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi bagi warga.
Program ini juga mendorong masyarakat menerapkan pola konsumsi secara bijak guna mengurangi potensi timbulan sampah dari rumah tangga.
“Jika sampah organik tidak dipilah dan dikelola, dampaknya bukan hanya membuat tempat pembuangan akhir penuh, tetapi juga meningkatkan emisi gas metana,” kata Eri.
Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah warga diharapkan dapat dikelola kembali melalui bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi volume sampah kota.
Eri menegaskan pihaknya mendukung langkah Pemerintah Kota Surabaya dalam memperkuat sistem pemilahan sampah berbasis sumber yang terintegrasi dengan bank sampah, TPS3R, rumah kompos, dan berbagai metode pengolahan sampah organik lainnya.

