DPRD Surabaya Ingatkan Kampung Pancasila Tak Sekadar Simbol


SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) — DPRD Kota Surabaya mengingatkan agar program Kampung Pancasila tidak berhenti sebagai simbol semata. Program yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu dinilai harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui aktivitas nyata.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya dari PSI, Pdt. Rio Pattiselanno, menegaskan bahwa Kampung Pancasila memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman di Kota Pahlawan.

“Kampung Pancasila ini menyatukan warga dari berbagai suku, agama, dan ras. Tapi yang paling penting adalah implementasinya di masyarakat,” ujar Rio, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, penguatan nilai toleransi tidak cukup hanya melalui slogan, tetapi harus diwujudkan dalam interaksi sosial sehari-hari. Ia menilai, aktivitas warga menjadi kunci dalam membangun nilai sosial budaya yang kuat.

Rio juga menekankan bahwa toleransi berkaitan langsung dengan stabilitas keamanan. Karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat ikut terlibat, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah.

“Toleransi bukan hanya soal nilai, tapi juga bagian dari stabilitas keamanan. Ini kerja bersama, bukan hanya tugas pemerintah,” tegasnya.
Ia berharap Kampung Pancasila dapat berkembang secara bertahap, mulai dari simbol, menjadi aktivitas, lalu budaya, hingga akhirnya menjadi identitas kolektif masyarakat Surabaya.


Di sisi lain, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terus mendorong penguatan program tersebut melalui berbagai pendekatan, termasuk kepada komunitas keagamaan.


Saat melakukan sosialisasi kepada Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Setempat (PGIS) Kota Surabaya di GKI Diponegoro, Eri menegaskan bahwa Kampung Pancasila merupakan gerakan nyata dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.


Ia menyoroti pentingnya sila pertama Pancasila sebagai titik temu antarumat beragama, sekaligus mengingatkan perlunya memperkuat komunikasi sosial di masyarakat.
“Kalau membangun rumah ibadah saja masih jadi perdebatan, berarti komunikasi kita masih perlu diperkuat,” kata Eri.


Selain itu, Eri juga mengajak masyarakat untuk memperkuat solidaritas sosial dengan membantu warga sekitar tanpa melihat perbedaan agama. Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya kerja bakti sebagai bagian dari implementasi Kampung Pancasila.


“Surabaya dibangun dengan gotong royong. Kalau warganya bergerak bersama, maka kota ini bisa menjadi contoh toleransi di Indonesia,” pungkasnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *