Jaga Lingkungan dan Berdayakan Ekonomi, PT BSI Pamerkan Program Rehabilitasi DAS di Gebyar Ekonomi Santri

BANYUWANGI – Perwujudan komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ekonomi warga terus ditunjukkan PT Bumi Suksesindo (PT BSI).

Perusahaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi ini hadir mendukung ajang Gebyar Ekonomi Santri (GES) di Alun-Alun Bondowoso

Melalui anjungan (stan) pameran yang dihadirkan, PT BSI memamerkan berbagai produk hasil bumi masyarakat binaan, dokumentasi kegiatan penghijauan, hingga rencana program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk periode tahun 2027 mendatang.

Tim Rehabilitasi DAS PT Bumi Suksesindo, Nugroho Ari, menyampaikan bahwa partisipasi dalam GES menjadi momentum strategis untuk mengenalkan program yang mengintegrasikan pemulihan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan bahwa rehabilitasi lahan tidak hanya soal penanaman pohon, tetapi bagaimana lahan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, selaras dengan slogan kami, ‘Hijau Hutanku, Makmur Desaku’,” kata Nugroho, Senin (2/11/2026).

Di stan pameran tersebut, pengunjung dapat melihat langsung hasil bumi dari lahan kompensasi yang dikelola oleh masyarakat binaan di Kabupaten Bondowoso dan Situbondo. Lahan seluas 200 hektare dengan tahun tanam 2025 itu menjadi bukti konkret bahwa program penghijauan berpotensi besar menopang kesejahteraan warga.

Selain produk hasil bumi, PT BSI juga menyajikan data dan dokumentasi pelaksanaan program pada Lahan Kompensasi (LAKOM) seluas 630 hektare di Kabupaten Bondowoso yang telah berjalan pada periode 2017–2023.

“Dokumentasi kami sampaikan agar masyarakat mengetahui bahwa program rehabilitasi telah dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan di berbagai desa,” jelas Nugroho.

Pada periode 2017–2023, lanjutnya, kegiatan rehabilitasi DAS telah menjangkau 20 desa di 8 kecamatan di Bondowoso, meliputi Kecamatan Taman Krocok, Klabang, Cermee, Botolinggo, Prajekan, Tegalampel, Pakem, dan Sumber Wringin.

Program pemulihan lingkungan itu terus berlanjut hingga tahun 2025 di wilayah Bondowoso dan Situbondo. Di Bondowoso, penghijauan menyasar Kecamatan Grujugan dan Klabang, sedangkan di Situbondo dilaksanakan di Kecamatan Mlandingan.

Rehabilitasi tersebut difokuskan pada lahan-lahan kritis guna membentuk kawasan berhutan baru sekaligus memulihkan fungsi ekologis lingkungan.

“Tujuan utamanya adalah memulihkan lahan kritis agar kembali memiliki tutupan vegetasi dan menjalankan fungsi lingkungannya secara optimal,” tuturnya.

Untuk jenis tanaman, PT BSI mengembangkan kombinasi antara tanaman kehutanan dan tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tanaman kehutanan yang ditanam antara lain jati, sonokeling, sengon buto, pinus, randu, gmelina, mahoni, kesambi, trembesi, dan johar.
Sementara untuk HHBK, dipilih tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti mangga, alpukat, nangka, durian, jambu monyet, hingga petai.

“Kami mengenalkan jenis tanaman yang dapat memberikan hasil langsung bagi masyarakat, sehingga manfaat rehabilitasi tidak hanya dirasakan dari sisi ekologi, tetapi juga dari sisi ekonomi,” imbuh Nugroho.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberlanjutan program. Ketika masyarakat merasa memiliki, merawat, dan memanfaatkan lahan secara tepat, dampak positifnya akan berlangsung dalam jangka panjang.

Tak berhenti di situ, PT BSI juga memaparkan rencana strategis Rehabilitasi DAS tahun 2027 mendatang. Sesuai penunjukan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), proyek rehabilitasi akan mencakup kawasan hutan kritis seluas 1.000 hektare yang tersebar di tiga kabupaten, yakni Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. (*)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *