SURABAYA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi warga RW 03 Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya, untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga kerukunan antarwarga.
Kegiatan yang digelar Jamaah Yasin dan Tahlil Al Mustaqim tersebut berlangsung di Balai RW 03 pada Minggu malam, 28 September 2026. Acara diisi dengan pembacaan sholawat, tausiyah, serta doa bersama.
Ketua RW 03 sekaligus Ketua Jamaah Yasin dan Tahlil Al Mustaqim, Totok Winarko, menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang ikut mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh jamaah dan warga yang saling bahu-membahu memberikan bantuan tenaga, dana, dan pikiran atas terlaksananya kegiatan ini,” ujarnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, H. Tri Didik Adiono, S.Sos. Dalam kesempatan itu, ia mengajak masyarakat terus menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
“Warga diharapkan saling rukun, saling menghargai satu sama lain, jangan terpecah belah. Terutama di saat kondisi bangsa dan negara yang sedang tidak baik-baik saja. Harus saling tepo seliro,” pesannya.
Tiga Prinsip Kehidupan
Sementara itu, tausiyah disampaikan KH MS Chudlori, S.Ag, Pengasuh Ma’had Ponpes Pengenalan Diri Syifaul Qulub, Kedungdoro, Surabaya.
Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan tiga prinsip yang perlu dijadikan pedoman umat Islam dalam menjalani kehidupan, yakni memperbaiki sholat, berbakti kepada kedua orang tua, serta berjihad di jalan Allah dalam makna melakukan kebaikan.
Pertama, umat Islam diingatkan untuk memperbaiki kualitas sholat, khususnya menjaga kewajiban sholat lima waktu. Sholat menjadi salah satu sarana membentuk pribadi yang mampu menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Kedua, pentingnya birrul walidain, yakni menghormati, menyayangi, dan berbakti kepada kedua orang tua. Menurutnya, menjaga hati orang tua dan menghindari perbuatan durhaka merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim.
Ketiga, jihad fi sabilillah dimaknai sebagai perjuangan dalam kebaikan. Tidak semata-mata dalam konteks peperangan fisik, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian, kerja sama, gotong royong, dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat.
“Jika tiga hal ini kita pegang dan laksanakan, Insya Allah umat Islam bisa tertata hidupnya, bahagia dunia akhirat,” jelas KH MS Chudlori.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan lantunan sholawat dan doa bersama.
Usai acara, Tri Didik Adiono menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di tengah masyarakat, termasuk dalam kegiatan keagamaan.
“Anggota Dewan itu sebenarnya adalah pelayan masyarakat, bukan pejabat. Jadi harus turun ke bawah dalam kondisi apapun,” pungkasnya.

