SURABAYA – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, mendorong pemerintah memperkuat regulasi untuk mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas. Menurutnya, hasil karya penyandang disabilitas harus diposisikan sebagai kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan, bukan sekadar objek simpati.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Pelatihan UMKM Gunung Anyar: Meningkatkan Daya Saing dengan Digital Marketing dan Artificial Intelligence (AI) di Kantor Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya, Rabu (5/8/2026).
Dalam kegiatan itu, Ning Lia meninjau langsung berbagai produk UMKM karya penyandang disabilitas, mulai dari batik, lukisan, hingga produk fesyen. Ia menilai kualitas produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan tidak kalah dengan produk UMKM pada umumnya.
“Kita ingin anak-anak disabilitas memiliki kemandirian, kepercayaan diri, dan mampu berkarya. Negara harus hadir melalui regulasi yang jelas agar hasil karya mereka tidak berhenti sebagai karya, tetapi menjadi sumber penghasilan yang mampu meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
Menurut Ning Lia, keberhasilan pemberdayaan penyandang disabilitas tidak dapat hanya dibebankan kepada keluarga maupun komunitas. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar produk yang dihasilkan memiliki akses pasar yang berkelanjutan.
“Jangan sampai mereka sudah semangat berkarya, tetapi tidak ada yang membeli produknya. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mendukung agar karya mereka memiliki nilai ekonomi,” katanya.
Selain mendorong penguatan akses pasar, Ning Lia juga meminta pemerintah memberikan perhatian kepada para orang tua yang mendampingi anak penyandang disabilitas. Menurutnya, mereka menghadapi tantangan yang tidak ringan sehingga membutuhkan kebijakan yang lebih berpihak.
“Orang tua yang memiliki anak disabilitas juga perlu mendapatkan dukungan, baik melalui jaminan pekerjaan maupun kebijakan lain yang memudahkan mereka mendampingi anak-anaknya,” tuturnya.
Ia menegaskan, produk hasil karya penyandang disabilitas tidak seharusnya dipandang sebagai produk yang dibeli karena rasa belas kasihan.
“Produk ini bukan untuk dikasihani. Kualitasnya bagus, harganya terjangkau, dan layak bersaing. Yang harus diperkuat adalah akses pasar dan dukungan negara agar mereka benar-benar memiliki keberdayaan ekonomi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia juga berdialog dengan Sumarti, ibu dari Rizky Gusti Prayambodo, seorang penyandang disabilitas yang berhasil mengembangkan usaha batik, lukisan, dan sablon DTF.
Sumarti menceritakan, Rizky mengalami cedera saat masih balita hingga sempat kehilangan kesadaran selama tiga bulan. Berkat terapi dan pendampingan keluarga, ia mampu bangkit, menempuh pendidikan di sekolah inklusi hingga lulus SMK, kemudian mengembangkan bakatnya di bidang seni dan UMKM.
Kini Rizky telah menghasilkan puluhan lukisan serta lebih dari seratus produk batik yang dipasarkan melalui berbagai pameran. Meski demikian, keterbatasan modal masih menjadi kendala utama untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Hingga sekarang Rizky sudah menghasilkan puluhan lukisan dan lebih dari seratus produk batik yang dipasarkan melalui berbagai pameran. Kendala kami saat ini masih keterbatasan modal untuk meningkatkan produksi,” ungkap Sumarti.
Ia berharap pemerintah maupun dunia usaha dapat memberikan dukungan yang lebih luas agar produk karya penyandang disabilitas memperoleh pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan bertema pemanfaatan digital marketing dan kecerdasan buatan (AI) tersebut, diharapkan pelaku UMKM, termasuk penyandang disabilitas, mampu meningkatkan daya saing, memperluas jangkauan pemasaran, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya.

