MPLS 2026, Reni Astuti: Jangan Ada Anak yang Gagal Sekolah dan Pastikan MPLS Bebas Perundungan

SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, menegaskan bahwa pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) harus menjadi momentum untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan hak memperoleh pendidikan.

Menurut Reni, MPLS bukan sekadar kegiatan penyambutan siswa baru, melainkan menjadi titik awal bagi pemerintah daerah untuk memastikan seluruh anak usia sekolah telah mendapatkan akses pendidikan yang layak.

“Memasuki tahun ajaran 2026/2027 ini, harapan kita semua harus bulat. Yakni, tidak boleh ada lagi kasus anak tidak bisa sekolah. Pendidikan adalah hak paling mendasar bagi setiap anak Indonesia,” ujar Reni, Minggu (12/7/2026).

Politisi PKS tersebut menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, mulai dari pemerataan kualitas pendidikan, keterbatasan daya tampung sekolah negeri, hingga pemenuhan fasilitas bagi sekolah inklusi. Berbagai persoalan itu, kata dia, masih kerap menjadi aspirasi masyarakat, khususnya di daerah pemilihannya, Surabaya dan Sidoarjo.

Reni mendorong pemerintah kabupaten, kota, maupun provinsi untuk aktif melakukan pendataan dan validasi di lapangan agar seluruh anak usia sekolah dapat terakomodasi dalam sistem pendidikan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan program wajib belajar 13 tahun berjalan optimal tanpa ada anak yang tertinggal akibat kendala ekonomi maupun persoalan zonasi.

Selain menyoroti akses pendidikan, Reni juga mengajak para siswa baru menjalani MPLS dengan semangat, rasa syukur, dan percaya diri. Ia berharap sekolah menjadi tempat yang aman untuk belajar, mengembangkan potensi, serta membangun pertemanan yang positif.

“Pelajari lingkungan baru dengan positif, jalin pertemanan yang sehat, dan gantungkan cita-cita setinggi mungkin,” pesannya.

Reni juga mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar penyelenggaraan MPLS benar-benar bebas dari segala bentuk perundungan maupun kekerasan, baik fisik maupun verbal. Menurutnya, lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

Ia turut mengajak para orang tua untuk terus membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pihak sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak, terutama di tengah tantangan era digital.

“Kolaborasi dan komunikasi yang harmonis antara orang tua dan guru adalah kunci utama. Dampingi tumbuh kembang anak dengan penuh kesabaran. Kehadiran emosional orang tua di rumah akan menjadi jangkar karakter anak saat mereka berinteraksi di luar rumah,” pungkasnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *