Industrialisasi Gresik Tumbuh Pesat, MUI dan Satpol PP Ingatkan Ancaman Pergeseran Nilai Kota Santri

GRESIK, (Kabarjawatimur.com) – Laju industrialisasi yang terus merambah wilayah Gresik Utara dinilai membawa dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi membuka peluang pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain berpotensi memunculkan persoalan sosial yang dapat menggeser identitas Gresik sebagai Kota Santri.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk “Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri” di Djuwana Caffe, Kecamatan Dukun, Selasa (28/7/2026). Diskusi menghadirkan Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Gresik Nur Faqih, Kepala Satpol PP Gresik Agustin Halomoan Sinaga, serta tokoh masyarakat Dukun Agus Ahmad Mufidsalam (Gus Salam).

Kasatpol PP Gresik Agustin Halomoan Sinaga menegaskan, menjaga keamanan, ketertiban, dan ketenteraman masyarakat tidak mungkin hanya mengandalkan aparat. Menurutnya, pengawasan lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama mulai dari tingkat RT, RW, pemerintah desa, tokoh agama, hingga masyarakat.

Sinaga mengungkapkan, Satpol PP Gresik saat ini hanya memiliki sekitar 260 personel, jauh di bawah kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai hampir 500 personel. Keterbatasan tersebut membuat peran masyarakat menjadi sangat penting dalam mendeteksi dini berbagai potensi gangguan ketertiban.

“Yang paling mengetahui kondisi wilayah adalah masyarakat sendiri. Karena itu kami mendorong pengaktifan kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) sebagai benteng awal menjaga keamanan,” ujar Sinaga.

Menurutnya, perkembangan kawasan industri turut memicu meningkatnya mobilitas penduduk dari berbagai daerah. Kondisi itu membawa konsekuensi berupa munculnya berbagai persoalan sosial, mulai dari peredaran minuman keras, praktik prostitusi terselubung, aktivitas ekonomi ilegal, hingga kasus penyalahgunaan narkotika dan rokok ilegal yang beberapa kali berhasil diungkap aparat.

Sinaga menilai pertumbuhan ekonomi harus diimbangi dengan pengawasan sosial yang kuat agar tidak menggerus karakter religius masyarakat Gresik. Ia juga mengajak media dan masyarakat untuk aktif melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Gresik Nur Faqih menilai tantangan terbesar industrialisasi bukan hanya berdirinya kawasan pabrik, melainkan perubahan sosial yang mengikuti masuknya investasi dan arus pendatang.

Menurutnya, wilayah Pantura Gresik yang selama ini dikenal sebagai kawasan dengan ratusan pondok pesantren dan tradisi keagamaan yang kuat harus mulai mempersiapkan diri menghadapi masyarakat yang semakin multikultural.

“Yang datang bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga budaya, pola hidup, dan cara pandang baru. Ini harus diantisipasi tanpa menghilangkan identitas keagamaan yang selama ini menjadi kekuatan Gresik,” katanya.

Nur Faqih juga mengingatkan tantangan lain yang dihadapi generasi muda, yakni derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, keluarga, sekolah, dan pesantren perlu memperkuat literasi, kemampuan berpikir kritis, serta pendidikan karakter agar generasi muda tidak kehilangan kepekaan sosial.

Pandangan senada disampaikan tokoh masyarakat Kecamatan Dukun, Agus Ahmad Mufidsalam atau Gus Salam. Ia menilai industrialisasi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang yang harus dijawab melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, banyak pesantren di Gresik mulai beradaptasi dengan membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan agar para santri memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia industri tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Meski demikian, Gus Salam mengingatkan bahwa industrialisasi juga membawa tantangan berupa berkurangnya pengawasan keluarga, perubahan pola pendidikan, hingga persoalan moral di tengah masyarakat. Karena itu, pesantren harus tetap menjadi pusat pembinaan karakter sekaligus benteng moral bagi generasi muda.

Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa industrialisasi dan identitas Gresik sebagai Kota Santri tidak perlu dipertentangkan. Kolaborasi antara pemerintah, aparat, pesantren, dunia usaha, tokoh agama, media, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar Gresik mampu berkembang sebagai kawasan industri modern tanpa kehilangan jati diri sebagai daerah religius dan berbudaya.

Reporter : Azharil Farich

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *