Surabaya ( Kabarjawatimur.com) – Temuan ribuan kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya sepanjang tahun 2026 menjadi peringatan penting bagi masyarakat untuk semakin peduli terhadap kesehatan dan melakukan pemeriksaan sejak dini.
Berdasarkan data hingga lima bulan pertama tahun ini, sebanyak 4.191 kasus TBC berhasil ditemukan dari estimasi 11.412 kasus yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, dan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, menilai meningkatnya jumlah kasus yang teridentifikasi harus menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat agar lebih aktif melakukan pemeriksaan kesehatan.
Menurut Lilik, tingginya angka temuan kasus tidak selalu menunjukkan peningkatan penyebaran penyakit. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat mencerminkan semakin optimalnya program skrining dan pelacakan yang dilakukan tenaga kesehatan dalam menemukan penderita TBC lebih cepat.
“Temuan ribuan kasus TBC ini harus menjadi perhatian bersama. Pemeriksaan kesehatan sejak dini sangat penting agar penderita dapat segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan,” ujar Lilik.
Ia menjelaskan bahwa TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang membutuhkan penanganan serius. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau tinggal di lingkungan dengan sirkulasi udara yang kurang baik.
Karena itu, Lilik mengajak masyarakat untuk mengenali gejala-gejala TBC seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam yang berlangsung lama, berkeringat pada malam hari, serta mudah lelah. Jika mengalami gejala tersebut, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, Lilik juga mendorong keterlibatan seluruh elemen dalam upaya pengendalian TBC. Menurutnya, pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, tempat ibadah, dunia usaha, hingga lingkungan RT dan RW perlu bersinergi memperkuat edukasi serta mendukung program pencegahan.
Ia menegaskan bahwa masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena takut mendapat stigma negatif. Padahal, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga selesai.
“Stigma terhadap penderita TBC harus dihilangkan. Masyarakat perlu memahami bahwa penyakit ini bisa disembuhkan. Yang dibutuhkan pasien adalah dukungan dan pendampingan agar mereka dapat menjalani pengobatan sampai tuntas,” tegasnya.
Lilik juga meminta Pemerintah Kota Surabaya untuk terus memperluas cakupan skrining, terutama di kawasan padat penduduk yang memiliki risiko penularan lebih tinggi. Selain itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan obat, kemudahan akses layanan kesehatan, serta pendampingan bagi pasien dari keluarga kurang mampu.
Menurutnya, keberhasilan pengobatan menjadi kunci utama dalam memutus rantai penyebaran TBC. Oleh karena itu, tenaga kesehatan dan kader kesehatan di lapangan harus terus memantau pasien agar tetap disiplin menjalani pengobatan sesuai anjuran medis.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini, Lilik optimistis Surabaya mampu menekan angka penularan TBC secara bertahap. Ia berharap seluruh warga dapat berperan aktif menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan demi mewujudkan Surabaya yang lebih sehat dan bebas TBC.

