Emak-emak Sekitar PT BSI Dilatih Olah Produk UMKM Berbahan Ikan

BANYUWANGI – Pengelola tambang emas PT Bumi Suksesindo (PTBSI) secara serius terus mendorong pemberdayaan ekonomi melalui penguatan UMKM.

Kali ini, anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk tersebut menggandeng Balai Pelatihan, Vokasi, dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi, melatih pelaku UMKM sekitar tambang yang didominasi kalangan emak-emak.

Pelatihan dua hari, 5-6 Juni 2026 tersebut digeber di Rumah Pintar, salah satu fasilitas program pendidikan PT BSI di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Materi pelatihan ini cukup lengkap, meliputi produksi, pengemasan, hingga teknik pemasaran, baik online maupun offline.

Perwakilan PT BSI dari Departemen Training and Development, Arif Rochimul Hidayat, mengungkapkan bahwa materi-materi tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan potensi bisnis masyarakat sekitar tambang.

“Agar mereka mampu berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi digital dan diharapkan memiliki inovasi kreatif untuk produk yang akan dipasarkan,” ucapnya, Selasa (9/6/2026).

Arif berharap proses pelatihan dapat berkesinambungan, meluas manfaatnya, dan berdampak positif. Dia mengingatkan, dampak tersebut mungkin tidak secara instan, tetapi berupa pemahaman yang bertambah dan keterampilan yang meningkat.

“Dengan bertambahnya pemahaman dan keterampilan, kita punya kesempatan untuk memperbaiki usaha,” tuturnya.

Pada hari pertama pelatihan, para peserta belajar tentang pembuatan konten pemasaran. Perwakilan BPVP Banyuwangi Syaifur Rahman, membawakan materi dengan sangat menarik. Para peserta pun tampak antusias mengikuti poin-poin yang disampaikan.

Pada hari berikutnya, para peserta praktik langsung membuat produk olahan ikan. Disitu, perwakilan BPVP Banyuwangi Kartiko Cahyo, Danang, dan Lulu membimbing para peserta untuk membuat nuget (nugget) dan pempek berbahan ikan putihan.

Bagian luar gedung Rumah Pintar seketika berubah menjadi arena memasak massal. Dua puluh orang memasak bersama di satu lokasi. Kartiko yang menjadi instruktur pun tidak lelah memandu peserta.

Fani Sugistian, salah satu peserta dengan gembira menceritakan pengalamannya mengikuti pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan agar semakin maju dan pelaku UMKM Naik Kelas.

“Kita juga belajar konten, loh. Belajar konten untuk online juga offline dalam rangka pemasarannya,” ucapnya.

Sementara itu, Community Development Officer PT BSI, Atika Dewi Evitasari menyebut bahwa pelatihan untuk pelaku UMKM ini merupakan realisasi program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Dengan pelatihan, dia berharap UMKM di sekitar perusahaan dapat naik kelas dan semakin maju.

“Selain kualitas produk, kami melihat packaging dan teknik pemasaran merupakan faktor penting bagi UMKM untuk survive dan terus berkembang,” tuturnya.

Penting diketahui, wilayah Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, merupakan lokasi investasi PT BSI, selaku pemegang izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) Emas dan Mineral Pengikutnya, Nomor 188/547/KEP/429.011/2012.

Wilayah Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, meliputi Desa Kandangan, Sarongan, Sumberagung, Sumbermulyo dan Pesanggaran.
Anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk tersebut telah dinyatakan sebagai Obyek Vital Nasional (Obvitnas) sesuai Kepmen ESDM Nomor 159.K/90/MEM/2020. Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN ini operasi produksi di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan pesanggaran, Banyuwangi.

Sebagai pelaku investasi, PT BSI terus menancapkan komitmennya kepada masyarakat. Program PPM atau CSR terus digelontorkan dengan 8 program utama. Meliputi program bidang pendidikan, kesehatan, tingkat pendapatan riil atau pekerjaan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, lingkungan, pembentukan lembaga komunitas dan infrastruktur. (*)

Bakorwil Malang Perkuat Sinergi Pembangunan untuk Majukan Selatan Jatim

AdaTah.com – Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat perannya sebagai penggerak sinergi pembangunan kewilayahan untuk mempercepat kemajuan kawasan Selatan Jawa Timur.

Melalui berbagai upaya koordinasi, kolaborasi, dan integrasi lintas sektor, Bakorwil Malang menyiapkan agenda besar untuk menjadikan wilayah Selatan Jawa Timur sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru yang mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan di Jawa Timur.

Menurut Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, kawasan Selatan Jawa Timur memiliki berbagai modal pembangunan yang sangat besar.

Kekayaan sumber daya alam, potensi pertanian, perikanan dan kelautan, destinasi wisata unggulan, keberagaman budaya, hingga dukungan infrastruktur yang terus berkembang menjadi kekuatan yang harus dioptimalkan secara terintegrasi.

“Selatan Jawa Timur memiliki seluruh modal dasar untuk tumbuh menjadi pusat pertumbuhan baru. Tantangannya bukan lagi soal potensi, tetapi bagaimana menghubungkan seluruh potensi tersebut dalam satu ekosistem pembangunan yang saling terintegrasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Asep di Kantor Bakorwil Malang.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan kawasan Selatan Jawa Timur tidak dapat dilakukan melalui pendekatan sektoral semata.

Dibutuhkan tata kelola pembangunan berbasis kewilayahan yang mampu menyinergikan program lintas sektor dan lintas daerah agar pembangunan berjalan lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pengembangan sport tourism sebagai penggerak ekonomi baru.

Kawasan selatan yang memiliki bentang alam pantai, pegunungan, kawasan konservasi, dan destinasi wisata unggulan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kegiatan olahraga wisata yang mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.

Menurut Asep, pengembangan sport tourism harus diikuti dengan penguatan ekosistem ekonomi di sekitarnya, termasuk pemberdayaan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penyediaan layanan pendukung yang berkualitas.

Selain itu, Bakorwil Malang juga mendorong penguatan konsep blue economy dan green economy sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan di kawasan Selatan Jawa Timur.

Potensi kelautan, perikanan, kehutanan, dan sumber daya lingkungan harus mampu dikelola secara produktif sekaligus bertanggung jawab agar dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.

“Kita ingin pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Karena itu, pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan sehingga manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang,” tegasnya.

Di bidang pembangunan manusia, Asep menegaskan bahwa percepatan penanganan stunting tetap menjadi perhatian serius dalam pembangunan kawasan.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan pembangunan jangka panjang.

“Pembangunan infrastruktur dan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia. Karena itu, upaya peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda pembangunan kawasan,” ujarnya.

Pada saat yang sama, Bakorwil Malang terus mendorong penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi lokal.

Keberadaan UMKM dinilai memiliki peran strategis dalam memperluas manfaat pembangunan, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan wisata maupun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Asep menjelaskan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kawasan menjadi salah satu pendekatan yang terus diperkuat. Setiap wilayah memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda sehingga memerlukan strategi pengembangan yang sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa agenda pembangunan kawasan Selatan Jawa Timur pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan percepatan pengurangan kemiskinan.

“Menurunkan kemiskinan di Malang Selatan tidak bisa dilakukan oleh satu instansi. Dibutuhkan kolaborasi, gotong royong, dan solusi nyata yang menyentuh akar persoalan masyarakat. Bakorwil Malang siap menjadi simpul koordinasi pembangunan kewilayahan untuk mempercepat pengurangan kemiskinan melalui penguatan ekonomi lokal, hilirisasi potensi daerah, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, serta pemanfaatan Jalur Lintas Selatan sebagai koridor pertumbuhan ekonomi baru. Inilah wujud nyata dukungan Bakorwil terhadap visi Nawa Bhakti Satya Jawa Timur,” tegas Asep.

Menurutnya, keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS) harus dimaknai lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur jalan. JLS merupakan instrumen strategis untuk membuka akses ekonomi, mempercepat konektivitas antarwilayah, menarik investasi, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Selatan Jawa Timur.

Dengan konektivitas yang semakin baik, berbagai potensi unggulan daerah seperti pariwisata, pertanian, perikanan, industri kreatif, hingga produk UMKM akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Asep menambahkan bahwa pengembangan sport tourism, blue economy, green economy, penguatan UMKM, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kawasan merupakan bagian dari strategi besar pembangunan yang bertujuan memastikan masyarakat lokal menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat terbesar dari proses pembangunan.

“Kami ingin pembangunan di Selatan Jawa Timur tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menurunkan kemiskinan, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat kualitas hidup warga. Ketika potensi daerah mampu dikelola secara optimal dan seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam semangat kolaborasi, gotong royong, dan solusi, maka Selatan Jawa Timur akan tumbuh menjadi mesin pertumbuhan baru yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai lembaga yang memiliki fungsi koordinasi kewilayahan, Bakorwil Malang terus memperkuat sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota, perangkat daerah provinsi, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan pembangunan berbasis kewilayahan, Bakorwil Malang optimistis kawasan Selatan Jawa Timur akan semakin berkembang sebagai koridor pertumbuhan baru yang mampu memperkuat daya saing Jawa Timur sekaligus menghadirkan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Semangat yang kami bangun adalah kolaborasi, gotong royong, dan solusi. Dengan menyatukan seluruh potensi yang dimiliki daerah, memperkuat konektivitas, dan memberdayakan masyarakat, kami optimistis Selatan Jawa Timur akan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di masa depan,” pungkas Asep Kusdinar. ***

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *