Arabsaudi ( Kabarjawatimur.com) – Mina pada puncak pelaksanaan ibadah haji 2026 berubah menjadi lautan manusia. Jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak dalam arus yang sama menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah. Di tengah kepadatan yang luar biasa itu, tidak sedikit jemaah yang akhirnya harus berjalan kaki sendiri tanpa rombongan maupun kendaraan.
Kondisi tersebut juga dialami Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Di tengah akses transportasi yang terbatas dan jalur yang dipenuhi jemaah, ia memilih berjalan kaki demi menunaikan ibadah sekaligus memenuhi janji bertemu konstituen yang telah menunggunya.
Dengan langkah cepat, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menyusuri jalur pejalan kaki di tengah suhu panas dan kepadatan ekstrem Mina. Selama lebih dari tiga puluh menit, ia berjalan berbaur bersama ribuan jemaah lain yang terus bergerak menuju Jamarat.
“Di tengah padatnya Mina, kita belajar tentang keteguhan menjaga amanah. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin,” ujar Ning Lia.
Fenomena jemaah berjalan kaki memang menjadi salah satu dinamika haji tahun ini. Tingginya jumlah jemaah serta terbatasnya akses transportasi membuat banyak orang harus menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan.
Meski demikian, Ning Lia menilai sistem pelayanan dan pengawasan bagi jemaah tetap berjalan baik. Menurutnya, petugas haji Indonesia tampak siaga di berbagai titik untuk membantu jemaah yang membutuhkan bantuan maupun informasi arah.
“Rasa aman itu tetap ada. Walaupun berjalan sendiri, sebenarnya kita tidak pernah benar-benar sendiri,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kerja sama berbagai pihak dalam penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, PPIH Arab Saudi, hingga para petugas haji lintas sektor yang bekerja di lapangan.
Dari pengalaman tersebut, Ning Lia membagikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan jemaah ketika berada di tengah kepadatan Mina.
Menurutnya, komunikasi menjadi hal utama yang harus dijaga. Ia menyarankan agar jemaah selalu memberi kabar kepada keluarga maupun rombongan serta memanfaatkan fitur berbagi lokasi secara real-time.
“Kita harus memastikan ada yang mengetahui posisi kita. Teknologi sangat membantu, tetapi kesadaran untuk menggunakannya juga penting,” tuturnya.
Selain itu, ia mengimbau jemaah untuk tidak ragu meminta bantuan kepada petugas haji apabila mengalami kesulitan atau terpisah dari rombongan.
Yang tak kalah penting, lanjut Ning Lia, adalah menjaga ketenangan dalam situasi apa pun.
“Panik hanya akan membuat keadaan semakin sulit. Di Tanah Suci, kita diajarkan untuk percaya bahwa setiap langkah selalu dijaga,” ucapnya.
Bagi Ning Lia, pengalaman berjalan kaki di tengah lautan manusia Mina bukan sekadar perjalanan menuju Jamarat. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pengingat tentang makna keikhlasan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama dalam menjalankan ibadah.
“Di sinilah kita belajar bahwa ibadah bukan hanya soal ritual, tetapi juga tentang keberanian, keikhlasan, dan kepedulian kepada orang lain,” pungkasnya.

