SURABAYA – Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ajeng Wira Wati, mendorong sekolah-sekolah di Kota Pahlawan untuk memprioritaskan destinasi wisata lokal sebagai pilihan kegiatan pembelajaran di luar kelas (outing class).
Menurutnya, Surabaya memiliki banyak destinasi edukasi yang layak dimanfaatkan sebagai ruang belajar alternatif. Selain memberikan pengalaman belajar secara langsung, pemilihan wisata lokal juga dapat menekan biaya kegiatan sekolah sekaligus menggerakkan perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Banyak yang bisa dimanfaatkan untuk outing class. Selain memang nyaman dengan fasilitas memadai, destinasi kota di Surabaya banyak yang bagus,” ujar Ajeng di Kantor DPRD Surabaya, Selasa (20/10/2026).
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Surabaya ini menilai, kegiatan outing class tidak harus selalu dilakukan ke luar kota. Berbagai destinasi di Surabaya memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran, mulai dari wisata sejarah, budaya, pendidikan, hingga konservasi lingkungan.
Selain jarak tempuh yang relatif dekat, penggunaan destinasi lokal dapat menghemat biaya transportasi dan waktu perjalanan. Hal ini dinilai penting agar kegiatan pembelajaran di luar kelas tetap memberikan manfaat optimal tanpa menambah beban pengeluaran orang tua murid.
Ajeng juga menyoroti dampak ekonomi dari kegiatan tersebut. Kunjungan pelajar ke destinasi wisata lokal berpotensi meningkatkan aktivitas pariwisata sekaligus memberikan peluang tambahan pendapatan bagi pedagang kecil dan UMKM di sekitar lokasi.
“Lebih dari itu, outing class di destinasi lokal tidak saja menanamkan nilai kebanggaan terhadap kotanya, tetapi juga mendukung pengembangan sektor wisata lokal,” tegasnya.
Surabaya memiliki sejumlah destinasi yang bisa dijadikan pilihan kegiatan pembelajaran. Kawasan Kota Lama, misalnya, dapat menjadi sarana mengenalkan sejarah dan perkembangan kota kepada siswa.
Sementara itu, Kebun Raya Mangrove dan Ekowisata Mangrove Wonorejo dapat dimanfaatkan untuk mempelajari ekosistem pesisir, keanekaragaman hayati, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Adapun Museum Pendidikan bisa memperkaya wawasan siswa mengenai perjalanan dunia pendidikan, sedangkan Tugu Pahlawan menjadi tempat untuk mengenalkan sejarah perjuangan bangsa sekaligus menanamkan nilai-nilai nasionalisme.
Ajeng berharap, sekolah-sekolah di Surabaya dapat lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di daerah sendiri.
Menurutnya, outing class semestinya tidak hanya menjadi agenda rekreasi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter, penguatan pengetahuan, dan penanaman kecintaan terhadap kota tempat para siswa tumbuh.
Dengan mengutamakan destinasi lokal, kegiatan belajar di luar kelas diharapkan menjadi lebih terjangkau, edukatif, dan berdampak positif bagi masyarakat. Di saat yang sama, generasi muda Surabaya dapat semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap potensi kotanya sendiri.

