Dari Host Pusaka ke Peracik Minyak Keris Ikke_an, Rawat Warisan Leluhur Lintas Generasi

SURABAYA (Kabarjawatimur)– Kecintaan terhadap pusaka Nusantara mendorong Ikke menghadirkan Minyak Keris Ikke_an, produk perawatan keris yang diracik untuk membantu menjaga bilah pusaka sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap warisan leluhur.

Bagi Ikke, keris bukan sekadar benda pusaka yang disimpan di lemari atau diwariskan secara turun-temurun. Di balik bilahnya terdapat sejarah, nilai budaya, dan cerita panjang yang menjadi bagian dari kekayaan Nusantara.

Pandangan tersebut membuat Ikke semakin dekat dengan dunia pusaka. Sebelum memperkenalkan produk perawatan keris, perempuan ini telah dikenal di kalangan pencinta pusaka melalui aktivitasnya sebagai host dan presenter di Ethnic Indonesia Channel, kanal yang banyak mengangkat dunia keris dan pusaka Nusantara.

Dari pengalaman berinteraksi dengan kolektor dan pemilik pusaka, Ikke menemukan persoalan yang cukup sering ditanyakan, yakni bagaimana merawat keris agar tetap terjaga.

“Saya ini menciptakan minyak pusaka atau minyak keris Ikke_an, pertama untuk membantu orang-orang atau kolektor dari kalangan bawah menengah ke atas itu lebih peduli dengan pusaka-pusakanya dengan cara yaitu meminyaki pusaka,” ungkap Ikke.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Ikke kemudian meracik minyak keris sendiri menggunakan bahan-bahan pilihan tanpa kandungan alkohol. Produk itu dirancang untuk membantu menjaga kondisi bilah keris, terutama dalam upaya mencegah korosi dan karat.

“Pembuatannya itu saya ngeracik sendiri dari bahan-bahan yang memang saya cari benar-benar bagus. Karena nomor satu adalah, gimana caranya bilah ini awet tidak mengkorosi dan berkarat,” jelasnya.

Mengusung Konsep Perawatan Bilah dan Energi Pusaka

Menurut Ikke, salah satu konsep yang membedakan Minyak Keris Ikke_an dengan minyak keris lainnya adalah pendekatan dua fungsi yang diusung produknya.

Selain digunakan untuk membantu merawat bilah, minyak tersebut juga dipersiapkan dengan doa atau amalan sesuai keyakinan yang dianutnya.

“Karena sebelum proses packing, dikirim, itu saya menyematkan amalan. Yang amalan itu khusus untuk merawat dari sisi energi pusaka tersebut,” jelasnya.

Ikke menegaskan, konsep tersebut merupakan bagian dari produk dan tidak dimaksudkan untuk menempatkan keris sebagai sesuatu yang harus disembah atau diyakini secara berlebihan.

Baginya, keris tetap merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dihargai dan dirawat.

“Saya cuma bilang memberikan arahan kalau memang di keris-keris ini ada energinya, karena empu zaman dahulu membuatnya itu tidak polosan. Karena proses menjadi empu juga sangat susah,” lanjutnya.

Ikke mengakui, proses meracik dan memperkenalkan produk tersebut membutuhkan adaptasi. Pada bulan pertama dan kedua setelah diluncurkan, ia sempat mengalami kondisi tubuh yang kurang nyaman. Namun, memasuki bulan ketiga, ia mengaku sudah lebih terbiasa.

Tiga Varian Aroma

Minyak Keris Ikke_an tersedia dalam tiga varian aroma, yakni melati, cendana, dan gaharu. Masing-masing memiliki karakter berbeda sesuai konsep yang diusung Ikke.

Varian melati ditujukan untuk meredam energi, cendana memberikan kesegaran dan semangat, sedangkan gaharu digunakan sebagai booster energi.

Meski baru sekitar tiga bulan dipasarkan, produk tersebut telah mendapat respons positif dari konsumen. Sekitar 100 botol disebut telah terjual melalui TikTok, Shopee, maupun penjualan offline.

Sejumlah konsumen juga memberikan testimoni positif mengenai penggunaan produk tersebut.

Namun, bagi Ikke, kehadiran Minyak Keris Ikke_an tidak semata-mata soal penjualan. Ia ingin masyarakat lebih memahami pentingnya merawat pusaka peninggalan leluhur.

“Nah ini saya juga memberikan edukasi bahwa sangat praktis merawat pusaka cuma meminyaki saja. Jadi biar orang-orang yang awalnya tidak peduli dengan pusaka, peninggalan leluhur kita, atau enggak ngerti harus bagaimana merawatnya, cukup dengan meminyaki kerisnya itu, seperti itu,” tegasnya.

Kini, Minyak Keris Ikke_an hadir sebagai pilihan bagi pencinta pusaka yang ingin merawat keris secara lebih praktis.

Untuk harga, varian melati dan cendana dibanderol Rp99 ribu, sedangkan gaharu Rp149 ribu.

Dari kecintaan terhadap pusaka dan pengalaman panjang di dunia keris, Ikke membawa pesan sederhana: merawat keris berarti ikut menjaga cerita dan warisan leluhur agar tetap hidup lintas generasi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *