SURABAYA (Kabarjawatimur) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya turun tangan menyelidiki kabar temuan belatung di balik buah jeruk dalam paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa SDN Tandes Kidul I.
Kepala Dinkes Kota Surabaya dr. Billy Daniel Messakh mengatakan, hingga Senin (14/9/2026), pihaknya belum menerima laporan resmi terkait temuan tersebut. Meski begitu, tim kesehatan lingkungan (kesling) telah diterjunkan untuk mengecek langsung informasi yang beredar.
“Tim saya sudah turun pagi ini, Senin. Sampai ke tempat lokasi belum ada pelaporan tentang hal itu,” kata Billy saat diwawancarai media, Senin siang.
Menurut Billy, tim kesling tidak hanya memastikan kebenaran informasi mengenai temuan belatung tersebut. Petugas juga menelusuri sumber awal informasi yang kemudian beredar di masyarakat.
“Tim kesling saya sudah cari beritanya, benar atau tidak. Jadi belum ada laporan itu. Kebenaran beritanya masih dicari, termasuk orang yang mengekspos pertama,” ujarnya.
Paket MBG yang diterima siswa SDN Tandes Kidul I diketahui disuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tandes yang berlokasi di Jalan Raya Tandes Kidul Nomor 6, Surabaya.
Seiring munculnya kabar tersebut, turut mencuat dugaan bahwa SPPG Tandes belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), lantaran proses pengurusannya masih berjalan.
Billy menjelaskan, penerbitan SLHS bukan menjadi kewenangan Dinkes secara langsung. Dinkes, kata dia, hanya menjadi salah satu unsur yang melakukan penilaian terhadap aspek sanitasi lingkungan.
“SLHS itu yang mengeluarkan bukan Dinas Kesehatan. Kita Dinas Kesehatan hanya melihat sanitasi lingkungan, dia memenuhi syarat atau tidak. Itu saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerbitan SLHS melibatkan sejumlah unsur dan persyaratan. Karena itu, Dinkes hanya menjalankan kewenangan pada aspek yang menjadi tanggung jawabnya.
“Ini salah satu unsurnya. Unsur lainnya untuk pembentukan SLHS kan harus ada beberapa persyaratan. Saya hanya salah satu unsurnya,” katanya.
Di tengah penyelidikan tersebut, Billy juga mengingatkan seluruh pengelola SPPG agar tidak mengabaikan prosedur pengolahan makanan. Standar keamanan dan higiene pangan harus menjadi perhatian utama dalam penyediaan makanan untuk siswa.
Imbauan itu disampaikan menyusul sejumlah persoalan terkait makanan MBG yang menjadi perhatian publik, termasuk kasus di wilayah Tembok Dukuh serta kabar keracunan massal di daerah lain.
Billy menilai, secara prinsip, pengelola SPPG sudah memahami prosedur pengolahan makanan yang harus dijalankan. Namun, ia meminta seluruh prosedur dan kelengkapan administrasi yang masih kurang segera dirapikan.
“Imbauannya mereka sebetulnya sudah tahu SPPG itu bagaimana cara prosedur yang benar untuk pengolahan. Itu saja yang mereka perlu rapikan,” ujarnya.
Selain prosedur pengolahan makanan, Dinkes juga mendorong SPPG melengkapi seluruh perizinan yang dipersyaratkan.
Menurut Billy, apabila masih terdapat masa untuk melengkapi persyaratan dalam proses perizinan, hal tersebut harus dimanfaatkan untuk segera memenuhi seluruh ketentuan.
“Kalau perizinannya memang masih ada waktu, misalnya diberi kesempatan sekian hari untuk memperlengkapi, sambil jalan ya mereka suruh lengkapi. Harusnya lengkapi supaya memenuhi syarat,” tegasnya.

