Wawali Armuji Sambangi Pameran Vivere Pericoloso, Tegaskan Seni Bagian Penting Pembangunan Surabaya

SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Di tengah padatnya agenda pemerintahan, Wakil Wali Kota Surabaya Cak Armuji memilih meluangkan waktu hadir di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Kompleks Balai Pemuda, untuk mengunjungi pameran seni rupa bertajuk Vivere Pericoloso yang digelar dalam rangka Bulan Bung Karno.

Kehadiran sosok yang akrab disapa masyarakat sebagai “Cacak-e Arek Suroboyo” itu langsung menyita perhatian para seniman. Bukan karena statusnya sebagai orang nomor dua di Pemerintah Kota Surabaya, melainkan karena kedekatannya yang selama ini dikenal lintas kalangan, termasuk komunitas seni dan budaya.

Di tengah deretan lukisan yang mengangkat pemikiran dan perjuangan Bung Karno, Cak Armuji tampak menikmati setiap karya yang dipamerkan. Ia beberapa kali berhenti, mengamati detail lukisan, berdialog dengan para perupa, hingga mendengarkan langsung cerita di balik proses kreatif yang melahirkan karya-karya tersebut.

Bagi para seniman, kehadiran Cak Armuji menjadi sinyal positif bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberi perhatian terhadap pembangunan kebudayaan.

Momentum itu terasa semakin bermakna karena pameran Vivere Pericoloso mengangkat semangat perjuangan Bung Karno yang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun karakter bangsa.

“Cak Armuji hadir bukan sekadar melihat pameran. Beliau datang untuk mendengar dan berdialog dengan seniman,” ujar salah satu peserta pameran.

Dalam sejumlah kesempatan, Cak Armuji memang dikenal memiliki kedekatan dengan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pedagang kaki lima, komunitas kampung, pelaku UMKM, hingga kalangan seniman. Gaya kepemimpinannya yang terbuka membuat dirinya kerap menjadi tempat menyampaikan aspirasi secara langsung.

Kehadiran Cak Armuji di ruang kesenian juga dinilai memiliki makna politik yang kuat. Di tengah era pembangunan kota yang semakin modern, perhatian terhadap kebudayaan menjadi pesan bahwa identitas dan karakter kota tidak boleh ditinggalkan.

Surabaya tidak hanya membutuhkan gedung tinggi dan infrastruktur yang megah, tetapi juga ruang-ruang kreatif yang mampu menjaga denyut kebudayaan masyarakatnya.

Di sela kunjungannya, Cak Armuji terlihat santai berinteraksi dengan para seniman. Tidak ada sekat formal yang biasanya melekat pada seorang pejabat. Suasana dialog berlangsung cair dan penuh keakraban.

Bahkan, beberapa seniman mengaku merasa dihargai karena karya-karya mereka mendapatkan perhatian langsung dari pimpinan daerah.

Pemandangan itu menjadi gambaran bahwa hubungan pemerintah dan pelaku seni tidak harus selalu dibangun melalui program besar atau seremoni formal. Kehadiran dan perhatian sering kali menjadi bentuk dukungan yang paling sederhana, namun memiliki arti besar bagi keberlangsungan ekosistem seni.

Di tengah kanvas-kanvas yang menampilkan wajah Bung Karno dan gagasan kebangsaan, Cak Armuji seolah menegaskan satu pesan penting: pembangunan kota tidak hanya berbicara tentang beton dan anggaran, tetapi juga tentang menjaga ruang ekspresi, kreativitas, dan kebudayaan.

Karena itulah, kedatangan Cak Armuji ke Galeri DKS sore itu bukan sekadar kunjungan biasa. Bagi para seniman, itu adalah bukti bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Ada perhatian dari pemerintah, ada ruang dialog yang terbuka, dan ada harapan bahwa seni tetap menjadi bagian penting dalam masa depan Kota Surabaya.

Seperti yang sering diucapkan warga Kota Pahlawan, “senimane dirungokno”. Dan sore itu, kalimat tersebut terasa benar-benar terjadi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *