SURABAYA (Kabarjawatimur) – Owner Rasa Sayang Grup, Heri Kuncoro, menyampaikan permintaan maaf kepada institusi Polri atas permasalahan yang melibatkan individu karyawan Rasa Sayang Zona terkait pembuatan pamflet menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) yang menampilkan seragam Polwan.
Heri menegaskan, peristiwa tersebut merupakan kekhilafan individu karyawan dan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan manajemen Rasa Sayang Grup.
“Pertama, saya sebagai Owner Rasa Sayang Grup menyampaikan permintaan maaf kepada Polri atas kekhilafan individu karyawan Rasa Sayang Zona,” ujar Heri dalam keterangannya kepada media.Senin 14 September 2026
Ia menjelaskan, pembuatan pamflet tersebut bukan merupakan materi promosi event outlet Rasa Sayang Zona. Pamflet itu disebut dibuat atas inisiatif pribadi sejumlah karyawan untuk kalangan internal mereka.
“Pembuatan pamflet di media sosial itu murni dari inisiatif individu karyawan kami untuk kalangannya sendiri, bukan promo event outlet. Karena di situ tidak tercantum tanggal dan event artisnya,” jelasnya.
Menurut Heri, pamflet tersebut awalnya dibuat untuk keperluan iseng-iseng di grup WhatsApp karyawan dan bukan untuk disebarluaskan ke media sosial.
Tegur Karyawan
Heri mengaku telah menegur, bahkan sempat marah kepada tim karyawan yang bersangkutan setelah mengetahui penggunaan seragam institusi Polri dalam pamflet tersebut.
Namun, berdasarkan pengakuan karyawan, mereka tidak mengetahui bahwa penggunaan seragam institusi Polri dalam editan tersebut dapat menimbulkan persoalan hukum.
“Saya sudah menegur, bahkan sempat marah ke tim individu karyawan yang bersangkutan terkait penggunaan seragam institusi Polri. Tapi mereka memang benar-benar tidak tahu bahwa hal itu menyalahi aturan dan melanggar hukum,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Heri menyampaikan bahwa pembuatan pamflet tersebut dilatarbelakangi rasa bangga karyawan terhadap institusi Polri.
Ia menyebut, salah satu kemungkinan latar belakangnya adalah adanya cita-cita sejak kecil untuk menjadi Polwan yang belum terwujud. Perasaan bangga tersebut kemudian dituangkan melalui editan AI yang menampilkan seolah-olah mereka mengenakan seragam Polwan.
“Setelah mendengar pengakuan mereka, ternyata dibuatnya pamflet media sosial itu murni karena karyawan saya merasa bangga dengan Polri. Mungkin sejak kecil bercita-cita jadi Polwan, tapi tidak kesampaian cita-citanya. Jadi mereka sangat bangga bisa seolah berseragam Polwan, walaupun itu hasil editan AI,” tuturnya.
Sudah Ditangani Aparat
Heri memastikan, persoalan tersebut kini telah ditangani pihak berwajib. Ia membenarkan bahwa tim individu karyawan yang terlibat telah menjalani pemeriksaan oleh polisi.
“Masalah ini sudah ditangani pihak berwajib dan benar tim individu karyawan kami sudah diperiksa polisi,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena ketidaktahuan individu karyawan terhadap dampak hukum dari tindakan yang dilakukan.
Heri juga menyampaikan bahwa karyawan yang bersangkutan telah meminta maaf kepada institusi Polri maupun manajemen Rasa Sayang Grup.
“Mereka juga sudah meminta maaf ke institusi Polri dan ke manajemen karena sedikit banyak hal ini menimbulkan dampak yang negatif,” ujarnya.
Minta Pemberitaan Objektif
Menutup keterangannya, Heri berharap media dapat memberitakan persoalan tersebut secara objektif dan tidak mengabaikan konteks di balik pembuatan pamflet.
Ia menegaskan, tidak ada unsur kesengajaan dari karyawan untuk melanggar hukum maupun menjelekkan institusi Polri.
“Intinya tim individu karyawan yang terlibat itu sebenarnya justru sangat bangga dengan Polri. Mereka menunjukkan rasa bangganya itu dengan bikin editan AI seolah berseragam Polwan,” tegas Heri.
Heri menyampaikan klarifikasi tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan media terkait persoalan yang belakangan viral di masyarakat.
Heri Kuncoro
Owner Rasa Sayang Grup

