Surabaya ( Kabarjawatimur.com) – Upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam mempercepat penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui tracing dan screening massal mendapat dukungan dari Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Dr. Akmarawita Kadir dari Fraksi Golkar. Ia menilai langkah deteksi dini menjadi strategi paling efektif untuk menekan penyebaran TBC sekaligus meningkatkan angka kesembuhan pasien.
Menurut Akmarawita, capaian Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam menemukan ribuan kasus TBC melalui kegiatan tracing dan screening menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani penyakit menular tersebut. Namun, ia mengingatkan agar upaya tersebut terus diperkuat dan diperluas hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan terpapar.
“Deteksi dini menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan TBC. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pasien mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar dapat ditekan,” ujar Akmarawita.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya periode Januari hingga Mei 2026, sebanyak 4.191 kasus TBC berhasil ditemukan dari estimasi 11.412 kasus yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini. Saat ini, 4.166 pasien tengah menjalani pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat mencapai 89,36 persen.
Akmarawita mengapresiasi capaian tersebut, namun menegaskan bahwa edukasi kepada masyarakat harus terus ditingkatkan. Menurutnya, masih banyak warga yang belum memahami gejala TBC maupun pentingnya menjalani pengobatan secara tuntas hingga dinyatakan sembuh oleh tenaga kesehatan.
“Jangan sampai pasien berhenti berobat di tengah jalan karena merasa sudah sehat. Kepatuhan menjalani terapi sangat menentukan keberhasilan pengobatan dan mencegah munculnya kasus TBC resistan obat yang lebih sulit ditangani,” tegasnya.
Komisi D DPRD Surabaya juga mendorong sinergi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, kader kesehatan, serta masyarakat untuk mempercepat pencapaian target eliminasi TBC tahun 2030. Menurut Akmarawita, keberhasilan program penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
“Target Indonesia bebas TBC pada 2030 harus menjadi gerakan bersama. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini dan menjalani pengobatan secara disiplin menjadi faktor penting dalam mewujudkan target tersebut,” pungkasnya.

