Surabaya ( Kabarjawatimur.com) – Ketidaktepatan data kembali memakan korban. Seorang lansia di Medokan Semampir, Surabaya, Bapak Parijo, harus menjalani hari-hari dalam keterbatasan tanpa tersentuh bantuan sosial karena masih tercatat sebagai warga “mampu” dalam sistem pemerintah.
Berdasarkan data Kementerian Sosial Republik Indonesia, Bapak Parijo masuk dalam kategori desil 6–10, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai penerima bansos. Namun kondisi riil di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Fakta ini terungkap setelah adanya pendampingan dari anggota DPR RI, Reni Astuti, melalui staf khusus advokasinya, Abah Lila. Pendampingan dilakukan untuk mencocokkan data administratif dengan kondisi sebenarnya.
“Hasil pengecekan memang menunjukkan beliau masuk kategori mampu. Tapi kenyataannya, kondisi ekonominya terbatas,” ungkap Lila.
Saat ini, Bapak Parijo sudah tidak lagi bekerja dan sepenuhnya bergantung pada keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan dari anaknya, Yayak, yang berjualan jajanan pasar.
“Kami sangat berharap bapak bisa mendapatkan bantuan, terutama untuk kebutuhan makan sehari-hari,” ujar Yayak.
Sebagai tindak lanjut, Abah Lila juga mendatangi kantor Dinas Sosial untuk berkoordinasi langsung dengan Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Syahroni.
Koordinasi tersebut dilakukan guna mendorong proses outreach ke rumah Bapak Parijo sekaligus mempercepat pemutakhiran data desil. Langkah ini penting agar kondisi ekonomi yang sebenarnya dapat diverifikasi langsung di lapangan, sehingga yang bersangkutan berpeluang masuk sebagai penerima bantuan sosial.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya akurasi data dalam penyaluran bantuan sosial. Ketidaksinkronan antara data dan kondisi nyata berpotensi membuat bantuan tidak tepat sasaran.
Pendampingan ini juga mencerminkan sinergi antara Reni Astuti melalui staf khusus advokasinya dengan pemerintah kota dalam memastikan warga yang benar-benar membutuhkan tidak terlewat dari program perlindungan sosial.
“Kami mendorong perbaikan data agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan dirasakan masyarakat yang membutuhkan,” tegas Lila.
Kisah Bapak Parijo menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik, ada realitas hidup yang harus dilihat secara langsung. Pembaruan data yang akurat menjadi kunci agar kebijakan sosial benar-benar hadir bagi mereka yang membutuhkan.

