Reni Cup 2026, Satukan Ngaji dan Olahraga : 27 Tim Santri Surabaya Bertanding, Kenjeran Raih Juara

SURABAYA – Santri tak hanya dituntut fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga harus sehat, cerdas, berprestasi, dan berakhlakul karimah. Semangat tersebut mewarnai Turnamen Futsal Santri Reni Cup 2026 yang digelar untuk menyambut Hari Santri Nasional 2026, Minggu (18/10/2026).

Turnamen yang diikuti 27 tim santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dari berbagai kecamatan di Kota Surabaya ini berlangsung meriah. Tim Kenjeran berhasil keluar sebagai juara pertama, disusul Sukomanunggal sebagai juara kedua, Wiyung di posisi ketiga, dan Gubeng menempati peringkat keempat. Sementara itu, gelar top scorer diraih M. Rofif dari tim Gubeng dengan torehan 15 gol.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Reni Astuti, mengatakan Reni Cup menjadi wadah bagi anak-anak santri untuk menyalurkan kegemaran berolahraga, khususnya sepak bola, tanpa meninggalkan kegiatan mengaji.

“Anak-anak ini kan biasanya ngaji. Tapi kita tahu betul bahwa anak-anak santri, terutama yang laki-laki, senang bal-balan. Surabaya ini juga dikenal dengan sepak bolanya. Jadi, ngajinya oke, bal-balannya juga oke,” ujar Reni.

Menurutnya, turnamen ini bukan sekadar kompetisi untuk memperebutkan piala. Lebih dari itu, Reni Cup menjadi ruang pembinaan karakter, menanamkan sportivitas, mempererat persaudaraan, sekaligus mendorong anak-anak agar semakin mencintai olahraga dan pendidikan Al-Qur’an.

Reni berharap kegiatan tersebut juga mampu menarik minat anak-anak yang gemar bermain sepak bola tetapi belum aktif mengaji di TPQ. Sebaliknya, santri yang sudah rutin mengaji diharapkan semakin bersemangat mengembangkan bakat olahraga mereka.

“Harapannya, anak-anak ini menjadi anak-anak yang sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah,” tegasnya.

Tekankan Akhlak dan Cegah Perundungan

Reni menekankan pentingnya menanamkan akhlak sejak usia dini, terutama di tengah derasnya arus informasi dan berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak. Menurutnya, kecerdasan dan prestasi harus berjalan beriringan dengan perilaku yang baik.

Akhlakul karimah, lanjutnya, tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak perlu belajar menyayangi dan menolong teman, menghormati orang yang lebih tua dan guru, serta menaati orang tua.

Nilai-nilai tersebut juga dapat ditanamkan melalui pertandingan futsal. Anak-anak belajar menerima kekalahan, menghargai lawan, mematuhi aturan, dan mengendalikan emosi ketika bertanding.

“Ini salah satu bentuk akhlakul karimah yang harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Sehingga kasus, misalnya perundungan yang beberapa waktu terakhir muncul, tidak terjadi di kalangan anak-anak santri,” jelasnya.

Reni Cup 2026 merupakan penyelenggaraan perdana turnamen futsal khusus santri yang digagas melalui kolaborasi Komisi X DPR RI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dengan dukungan Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPG) Kota Surabaya.

Reni membuka peluang agar turnamen tersebut menjadi agenda tahunan. Namun, keberlanjutannya akan mempertimbangkan masukan dari santri, orang tua, dan pengurus penyelenggara.

“Kalau memang ternyata menyenangkan, semarak, dan membuat anak-anak semakin semangat mengaji di TPQ, tidak ada salahnya kita buat tahunan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pembinaan santri membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, khususnya dalam sektor pendidikan dan kesehatan.

Menurut Reni, banyak lulusan pendidikan pesantren maupun TPQ yang berhasil menjadi tenaga profesional dan berkontribusi di berbagai bidang. Ia menyoroti keberadaan tenaga medis dalam kegiatan tersebut yang juga memiliki latar belakang sebagai santri TPQ.

Reni Cup 2026 menjadi pengingat bahwa pembinaan generasi muda tidak harus memisahkan pendidikan agama, kesehatan, dan prestasi. Ketiganya dapat berjalan beriringan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak.

27 Tim Ikuti Turnamen Perdana

Ketua panitia penyelenggara, Widya Adi Sasongko, menjelaskan Reni Cup 2026 menjadi pengalaman pertama penyelenggaraan turnamen futsal khusus santri di Surabaya. Sebanyak 27 tim tercatat mengikuti kompetisi tersebut.

Setiap tim terdiri atas 10 pemain, yakni lima pemain inti dan lima pemain cadangan, serta didampingi tiga ofisial. Peserta dibatasi pada anak berusia 7–12 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan tercatat sebagai santri TPQ di wilayah kecamatan masing-masing.

Untuk memastikan persyaratan terpenuhi, panitia melakukan verifikasi data peserta, mulai usia, jenjang sekolah, hingga status keaktifan mengaji melalui sistem pendataan yang digunakan.

Pembatasan usia dan jenjang pendidikan tersebut dilakukan agar pertandingan berlangsung lebih seimbang, baik dari sisi kemampuan fisik maupun perkembangan emosional anak.

Adi menyebut antusiasme peserta dan orang tua menjadi salah satu hal yang menonjol dalam penyelenggaraan perdana ini. Ia berharap Reni Cup dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sebagai wadah positif bagi santri untuk mengembangkan bakat dan kemampuan mereka.

FKPG Dorong Santri Berprestasi dan Jaga Persaudaraan

Ketua DPD FKPG Kota Surabaya, H. Alfan Nabhan, menyambut positif penyelenggaraan turnamen tersebut. Ia menjelaskan, FKPG merupakan wadah bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an dan para guru TPQ di Surabaya.

Menurut Alfan, jaringan pendidikan Al-Qur’an di Surabaya mencakup sekitar 3.600 lembaga dengan total kurang lebih 12.700 guru TPQ. Besarnya jaringan tersebut menunjukkan pentingnya pembinaan santri yang tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pengembangan karakter, kesehatan, dan potensi anak.

“FKPG menginginkan santri itu bukan hanya mengaji saja. Ya ngaji, ya bal-balan. Tapi kalau bal-balan, ojok misuhan, ojok nakalan. Kalah menang, ayo seduluran,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam olahraga. Sikap menghormati lawan, mengendalikan emosi, dan menjaga persaudaraan justru menjadi pelajaran penting yang harus dibawa pulang setiap peserta.

Alfan menilai antusiasme anak-anak dan orang tua menjadi modal penting untuk melanjutkan program ini. Ia berharap Reni Cup tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial Hari Santri, tetapi berkembang menjadi agenda pembinaan yang berkelanjutan.

Selain mempertahankan turnamen futsal, FKPG juga membuka peluang mengembangkan kegiatan lain bagi santri, termasuk kirab budaya. Ia mencontohkan kegiatan kirab yang pernah melibatkan ribuan santri dari berbagai kecamatan di Surabaya pada 2022.

Alfan mengingatkan bahwa santri memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa, termasuk peran dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika dahulu santri turut berjuang melawan penjajahan, kini semangat tersebut perlu diwujudkan melalui pendidikan, penguasaan ilmu, prestasi, dan kontribusi positif bagi masyarakat.

Melalui Reni Cup 2026, para santri diharapkan tidak hanya mampu mencetak gol di lapangan, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, menjunjung sportivitas, serta siap menghadapi tantangan zaman.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *