SURABAYA (Kabarjawatimur) – Kawasan Wisata Mangrove Wonorejo dinilai masih belum mampu memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. Sejumlah fasilitas yang mulai membutuhkan pembenahan hingga konsep pengembangan wisata menjadi sorotan DPRD Kota Surabaya.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Michael Leksodimulyo, mengatakan revitalisasi perlu dilakukan secara bertahap dengan dukungan anggaran yang memadai. Menurutnya, pembenahan penting dilakukan agar kawasan mangrove semakin nyaman dan aman bagi wisatawan.
“Memang ada rencana yang akan dibuat untuk guesthouse, tetapi kita bisa melihat, guesthouse di sana siapa yang mau tinggal. Nyamuknya banyak kalau sore. Jadi perlu pemugaran, dan pemugaran itu membutuhkan dana yang tidak sedikit,” ujar Michael saat dihubungi, Jumat (19/9/2026).
Michael menyebut salah satu konsep yang dapat dikembangkan adalah memanfaatkan area parkir awal sebagai guesthouse sekaligus bagian dari daya tarik wisata. Namun, konsep tersebut harus dibarengi dengan pembenahan fasilitas dan pengelolaan kawasan.
Ia juga mendorong adanya wisata susur mangrove menggunakan kapal-kapal kecil. Moda tersebut dinilai dapat menghubungkan Mangrove Wonorejo dengan kawasan Mangrove Gunung Anyar sehingga terbentuk destinasi wisata mangrove terpadu.
“Kami juga mendorong adanya pengembangan wisata menggunakan kapal-kapal kecil yang dapat membawa wisatawan menyusuri kawasan mangrove hingga terhubung dengan Mangrove Gunung Anyar,” katanya.
Menurut Michael, konsep wisata terpadu tersebut dapat memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung. Di Mangrove Gunung Anyar, wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga dapat melihat kawasan konservasi burung yang dilindungi serta mengikuti kegiatan edukasi, seperti pembuatan kompos.
Selain pengembangan destinasi, aspek keselamatan wisatawan juga menjadi perhatian. Michael menyoroti kondisi sejumlah jalur kayu yang menjadi akses utama pengunjung.
“Jalan kayu itu beberapa bagian kalau kita tidak hati-hati bisa rapuh dan bisa terperosok. Kemudian perlindungan untuk wisatawan juga harus diperhatikan,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta Pemkot Surabaya memberikan perhatian lebih terhadap kondisi infrastruktur di kawasan tersebut. Menurutnya, revitalisasi bukan hanya untuk mempercantik kawasan, tetapi juga memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan.
“Ini sangat bagus, tetapi Mangrove Wonorejo harus kita renovasi kembali. Pemerintah kota harus memberikan fokus perhatian ke proyek itu, sehingga wisata mangrove yang menjadi kebanggaan Kota Surabaya ini bisa dikembangkan dengan baik,” tegas Michael.
Tak hanya infrastruktur, Michael turut menyoroti sistem tarif yang diterapkan kepada wisatawan. Ia berharap terdapat evaluasi terhadap berbagai pungutan, mulai dari tiket masuk, iuran hingga biaya tambahan untuk aktivitas tertentu, termasuk fotografi.
“Jangan terlalu besar perbedaannya antara wisatawan domestik dan wisatawan asing, terutama soal tarif,” ujarnya.
Michael mengusulkan agar sistem pembayaran di kawasan wisata tersebut dikemas dalam bentuk paket. Dengan konsep itu, wisatawan tidak perlu membayar berkali-kali ketika mengakses berbagai spot atau fasilitas dalam satu kawasan.
“Mulai masuk itu sudah ada Paket A, Paket B, Paket C. Jangan satu-satu. Kalau ada spot untuk fotografi, kemudian diminta bayar lagi. Foto di pinggir mangrove bayar lagi. Lebih baik dibuat paket,” katanya.
Menurutnya, pola tersebut dapat mengadopsi konsep pengelolaan destinasi wisata seperti Jatim Park, dengan pilihan paket yang memungkinkan wisatawan menikmati sejumlah wahana atau fasilitas dalam satu kawasan.
Michael berharap pengembangan Mangrove Wonorejo tidak berhenti pada renovasi fasilitas. Lebih jauh, kawasan tersebut diharapkan dapat terintegrasi dengan Mangrove Gunung Anyar sehingga menjadi satu destinasi wisata mangrove yang lebih luas.
“Kalau saya inginkan, Mangrove Wonorejo sampai ke Mangrove Gunung Anyar kita bisa merasakan nikmatnya wisata mangrove itu sendiri. Mangrove Wonorejo sebenarnya punya eksotik di dalam pemandangannya, sangat bagus sekali,” pungkasnya.

