Kepala Asrama Haji Kelas I Surabaya Berpulang, Ini Sosok Hj. Fentin Istifa’iyah

SURABAYA (KabarJawatimur) — Kabar duka menyelimuti keluarga besar anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Sang kakak, Hj. Fentin Istifa’iyah, S.Ag., M.Si., yang menjabat sebagai Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Surabaya, berpulang ke Rahmatullah, Sabtu (29/8/2026).

Hj. Fentin meninggal dunia setelah beberapa bulan menjalani perawatan karena sakit. Putri kedua dari enam bersaudara pasangan KH Masykur Hasyim itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, serta orang-orang yang mengenal kiprahnya dalam pelayanan jamaah haji.

Bagi Lia Istifhama, kepergian sang kakak bukan hanya kehilangan seorang saudara, tetapi juga sosok perempuan yang selama ini dikenal memiliki dedikasi dan kepedulian besar terhadap tugas pengabdiannya.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya bersaksi Hj. Fentin Istifa’iyah, kakak kandung saya, adalah orang yang sangat baik. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, menerima segala amal ibadahnya, dan menempatkan beliau di surga-Nya. Kami atas nama keluarga minta maaf apabila almarhumah ada kesalahan,” tutur Lia dari rumah duka.

Nama Fentin memang tidak asing di lingkungan Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Ia dipercaya menjadi Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Januari 2026. Ia dilantik pada Rabu, 28 Januari 2026, setelah mendapat panggilan mendadak ke Jakarta untuk mengikuti proses wawancara sekaligus pelantikan.

Amanah tersebut datang dengan tanggung jawab besar. Asrama Haji Embarkasi Surabaya merupakan salah satu pusat pelayanan jamaah haji dari Jawa Timur, selain melayani jamaah dari Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Bagi Fentin, tugas tersebut bukan hal yang benar-benar baru. Sejak menunaikan ibadah haji pada 2001, ia telah mengenal lingkungan Asrama Haji Surabaya. Pengalamannya semakin berkembang setelah bergabung sebagai pegawai Kementerian Agama pada 2005.

Berbagai pelatihan serta pengalaman dalam penyelenggaraan haji dan umrah turut membentuk perjalanan profesionalnya.

Sebelum dipercaya menjadi kepala asrama, Fentin menjabat Ketua Tim Akomodasi, Transportasi dan Perlengkapan Haji Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur. Ia juga pernah dipercaya sebagai Sekretaris Sektor 10 Makkah pada 2024.

Saat mulai memimpin Asrama Haji Surabaya, Fentin memilih mengedepankan kerja kolektif. Ia meyakini keberhasilan pelayanan jamaah tidak mungkin hanya bergantung pada seorang pimpinan.

Pembenahan internal pun dilakukan, disertai pemetaan terhadap kondisi fasilitas asrama. Dari total 587 kamar yang tersedia, lebih dari seratus kamar saat itu membutuhkan perbaikan, mulai dari kerusakan ringan hingga berat. Sebagian bangunan bahkan telah berusia 40 hingga 60 tahun.

Namun, bagi Fentin, pelayanan jamaah haji tidak berhenti pada urusan administrasi dan kesiapan fasilitas.

Asrama Haji, menurut cara pandangnya, merupakan tempat persinggahan orang-orang yang tengah menjalani perjalanan spiritual. Bagi sebagian jamaah, perjalanan tersebut bahkan mungkin menjadi pengalaman sekali seumur hidup.

Karena itu, ia ingin Asrama Haji Surabaya tidak sekadar layak ditempati. Tempat tersebut harus mampu menghadirkan suasana nyaman, bersih dan indah bagi para tamu Allah.

Sejumlah gagasan kemudian disiapkan. Mulai dari penataan kawasan manasik, perluasan area thawaf, pembenahan tampilan depan hingga penyesuaian warna bangunan. Berbagai pembenahan tersebut dirancang dilakukan secara bertahap.

Cita-cita Fentin bahkan lebih jauh. Ia ingin Asrama Haji tidak hanya hidup ketika musim haji tiba, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran, wisata religi, tempat bernostalgia, sekaligus ruang yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Fungsi spiritual masjid di lingkungan asrama juga menjadi perhatian. Ia berupaya menghidupkan kembali berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, bimbingan dan aktivitas spiritual lainnya.

Di luar tugas kedinasan, Fentin juga memiliki perjalanan panjang dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Ia pernah aktif di sejumlah organisasi, di antaranya PMII, Fatayat NU hingga Muslimat NU.

Lulusan Ilmu Politik Universitas Airlangga itu dikenal memilih menjalani kepemimpinan dengan prinsip sederhana: bekerja sungguh-sungguh dan melayani sepenuh hati.

Kini, sosok yang pernah bertekad menjawab setiap keraguan dengan karya itu telah berpulang.

Masa pengabdiannya sebagai Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi Surabaya memang terbilang singkat. Namun, gagasan, kerja dan perhatian yang ia berikan untuk peningkatan pelayanan jamaah menjadi bagian dari jejak yang ditinggalkannya.

Bagi keluarga, kolega dan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, Fentin bukan sekadar seorang pejabat. Ia adalah sosok kakak, sahabat dan pengabdi yang meninggalkan kenangan mendalam.

Selamat jalan, Hj. Fentin Istifa’iyah.

Semoga seluruh pengabdian dan kebaikan almarhumah menjadi amal jariyah. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu ‘anha.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *