SPEKAL JATIM Dorong “Ayo Makan di SWK”: Jangan Biarkan UMKM Berjuang Sendirian

SURABAYA ( KabarJawatimur) — Setiap pagi, para pedagang di Sentra Wisata Kuliner (SWK) membuka lapaknya. Mereka menyiapkan makanan, membersihkan meja, menata dagangan, dan menunggu pembeli datang.

Bagi kita, membeli satu porsi makanan mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi pedagang UMKM, satu transaksi bisa berarti uang belanja keluarga, biaya sekolah anak, atau sekadar memastikan dapur tetap mengepul hari itu.

Persoalannya, di tengah fasilitas SWK yang telah disediakan Pemerintah Kota Surabaya, masih terdapat sejumlah SWK yang menghadapi persoalan sepinya pengunjung, khususnya wisatawan lokal dan masyarakat sekitar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian SPEKAL JATIM. Organisasi yang bergerak dalam penguatan dan pemberdayaan pelaku usaha ini mendorong agar persoalan tersebut tidak hanya menjadi keluhan para pedagang, tetapi menjadi agenda bersama antara pemerintah, pengelola SWK, pelaku UMKM dan masyarakat.

Bukan Mencari Siapa yang Salah

Abah Lila, anggota Divisi Pemasaran dan Usaha SPEKAL JATIM, mengatakan bahwa persoalan SWK sepi tidak seharusnya dilihat dengan pendekatan menyalahkan salah satu pihak.

«“Kita tidak ingin mencari siapa yang salah ketika SWK sepi. Pemerintah sudah membangun fasilitas, pedagang sudah berjualan. Yang perlu kita pikirkan bersama sekarang adalah bagaimana menghadirkan pengunjung dan membuat mereka mau datang kembali,” ujar Abah Lila.»

Menurutnya, keberadaan SWK harus dilihat bukan sekadar sebagai tempat berjualan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Ketika SWK ramai, yang mendapatkan manfaat bukan hanya pedagang. Aktivitas ekonomi di sekitar kawasan ikut bergerak dan masyarakat memiliki ruang kuliner yang nyaman, terjangkau dan dekat dengan lingkungan mereka.

SPEKAL JATIM Dorong Gerakan “Ayo Makan di SWK Surabaya”

SPEKAL JATIM mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk menginisiasi gerakan “Ayo Makan di SWK Surabaya” sebagai kampanye bersama untuk mengajak masyarakat menjadikan SWK sebagai destinasi kuliner lokal.

Gerakan ini tidak harus selalu berupa event besar dan menghabiskan anggaran besar.

Bisa dimulai dari hal sederhana: mengajak ASN dan perangkat wilayah makan di SWK, menggelar kegiatan komunitas, menghidupkan aktivitas akhir pekan, melakukan promosi digital, menghadirkan seni budaya lokal, memberikan voucher atau promo kuliner, serta mengajak sekolah, kampus, organisasi masyarakat dan komunitas untuk beraktivitas di SWK.

“Kalau ingin SWK ramai, maka harus ada alasan bagi masyarakat untuk datang. Setelah mereka datang, tugas pedagang adalah memberikan makanan dan pelayanan terbaik agar mereka ingin kembali,” tambah Abah Lila.

Tiga Dorongan Konkret SPEKAL JATIM kepada Pemkot Surabaya

SPEKAL JATIM mendorong setidaknya tiga langkah konkret:

Pertama, menetapkan program promosi SWK secara terukur.

Pemkot perlu memiliki kampanye promosi SWK yang dilakukan secara konsisten melalui kanal resmi pemerintah, kecamatan dan kelurahan, termasuk promosi menu UMKM dan kegiatan masing-masing SWK.

Kedua, menggerakkan kelurahan dan kecamatan sebagai motor kunjungan masyarakat.

SWK dapat menjadi lokasi kegiatan masyarakat seperti PKK, karang taruna, komunitas, kegiatan keluarga, seni budaya dan kegiatan lainnya. Dengan demikian, SWK tidak hanya ramai ketika ada event besar.

Ketiga, melakukan evaluasi berbasis data.

Keberhasilan SWK jangan hanya diukur dari tersedianya bangunan dan fasilitas, tetapi dari jumlah pengunjung, jumlah transaksi, omzet pedagang, tingkat keaktifan stan, serta kepuasan masyarakat.

SWK yang masih sepi perlu mendapatkan pendampingan dan strategi khusus, bukan dibiarkan berjalan sendiri.

Pedagang Juga Harus Mau Berbenah

SPEKAL JATIM juga mengingatkan bahwa dukungan pemerintah harus diikuti dengan kesiapan para pelaku UMKM.

Kualitas rasa, harga yang wajar, kebersihan, pelayanan yang ramah, inovasi menu, tampilan produk dan pemasaran digital menjadi bagian penting untuk membuat pengunjung datang kembali.

«“Pemerintah bisa membantu menghadirkan pengunjung. Tetapi ketika pengunjung sudah datang, kualitas produk dan pelayanan pedaganglah yang menentukan apakah mereka akan menjadi pelanggan,” jelas Abah Lila.»

Karena itu, gerakan menghidupkan SWK harus menjadi gerakan dua arah: pemerintah memperkuat ekosistem dan promosi, sementara pelaku UMKM memperkuat kualitas dan daya saing usahanya.

Jangan Biarkan SWK Hanya Ramai Saat Ada Acara

SPEKAL JATIM berharap ke depan SWK tidak hanya ramai ketika ada kegiatan atau event tertentu.

Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan kunjungan rutin masyarakat, sehingga pedagang memiliki kepastian pasar dan dapat menjalankan usahanya secara berkelanjutan.

«“Jangan sampai pedagang setiap hari membuka lapak, tetapi yang datang hanya sesekali. Kita ingin SWK menjadi tempat yang memang dicari warga ketika ingin makan, berkumpul dan menikmati kuliner lokal,” kata Abah Lila.»

SPEKAL JATIM siap menjadi bagian dari proses dialog dan kolaborasi bersama Pemerintah Kota Surabaya, DPRD, kecamatan, kelurahan, pengelola SWK, komunitas dan pelaku UMKM untuk mencari solusi yang nyata dan dapat diukur.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan SWK sangat sederhana:

Ada pengunjung.
Ada transaksi.
Pedagang tersenyum.
Ekonomi warga bergerak.

SPEKAL JATIM

Menguatkan UMKM • Menghidupkan SWK • Menggerakkan Ekonomi Masyarakat

#AyoMakanDiSWKSurabaya
#DukungUMKMSurabaya
#HidupkanSWK
#SPEKALJATIM

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *