SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Ketua Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahguna Narkotika Bhayangkara Indonesia (LRPPN-BI), Prof. Siswanto, mengajak masyarakat menjadikan peringatan malam 1 Suro yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai momentum introspeksi diri, memperkuat nilai spiritual, dan mempererat hubungan keluarga.
Hal tersebut disampaikan Prof. Siswanto saat ditemui di Kantor LRPPN-BI, Jalan Khairil Anwar Nomor 23, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, malam 1 Suro memiliki makna yang sangat penting, baik dari sisi budaya maupun keagamaan. Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro merupakan tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun, sementara bagi umat Islam menjadi penanda pergantian Tahun Baru Hijriah yang sarat makna spiritual.
“Bagi umat Islam di seluruh dunia, pergantian Tahun Baru Islam merupakan momen yang sangat penting. Sementara bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki nilai sakral sebagai bagian dari budaya bangsa yang diwariskan oleh para leluhur dan perlu terus dilestarikan,” ujar Prof. Siswanto.
Ia menilai, peringatan malam 1 Suro seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sekaligus memperkuat ikatan kekeluargaan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.
Karena itu, Prof. Siswanto mengimbau masyarakat agar tidak merayakan malam 1 Suro dengan kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian berlebihan. Ia mengajak masyarakat mengisi malam tersebut dengan kegiatan positif bersama keluarga di rumah.
“Memperingati malam 1 Suro diusahakan jangan sampai keluar rumah. Kalau bisa dirayakan di rumah bersama keluarga untuk lebih mempererat tali persaudaraan antaranggota keluarga,” tegasnya.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng utama dalam membentuk karakter generasi muda serta mencegah berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan bangsa, termasuk penyalahgunaan narkotika dan perilaku menyimpang lainnya.
Prof. Siswanto menambahkan, peringatan malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai keislaman. Tradisi yang diwariskan para leluhur, kata dia, harus tetap dijalankan secara positif tanpa meninggalkan ajaran agama.
Ia berharap masyarakat menyambut Tahun Baru Islam dengan memperbanyak doa, meningkatkan ibadah, serta memperkuat keharmonisan dalam keluarga dan lingkungan sosial.
“Semoga momentum 1 Suro dan Tahun Baru Islam ini membawa keberkahan, kedamaian, serta memperkuat persatuan dan persaudaraan di tengah masyarakat,” pungkasnya.

