Hardiknas 2026: Deni Wicaksono Soroti Kesenjangan Sekolah Kota dan Daerah

SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) — Deni Wicaksono menegaskan masih adanya ketimpangan kualitas pendidikan serta tantangan transformasi digital di Jawa Timur yang perlu segera dibenahi secara menyeluruh.

Pernyataan itu disampaikannya dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Sabtu (2/5/2026), sebagai refleksi arah pembangunan pendidikan di daerah.

“Hardiknas ini harus menjadi momen evaluasi, karena kualitas pendidikan kita belum merata di semua wilayah,” ujarnya.

Deni mengungkapkan, Jawa Timur memiliki skala pendidikan yang besar dengan sekitar 345.454 tenaga guru dari jenjang SD hingga SMK. Namun, distribusinya dinilai belum merata antara wilayah perkotaan dan daerah.

“Jumlah guru besar, tapi penyebarannya belum merata. Ini yang harus dibenahi,” tegasnya.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesenjangan kualitas pembelajaran di berbagai wilayah. Disparitas masih terlihat jelas antara sekolah di perkotaan dan daerah pinggiran, terutama dalam hal fasilitas, tenaga pendidik, hingga akses teknologi.

“Sekolah di kota relatif lebih siap, sementara di daerah masih banyak yang kekurangan sarana dan guru,” ungkap Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu.

Dari sisi anggaran, Deni menyebut alokasi pendidikan di Jawa Timur mencapai sekitar Rp9,9 triliun atau 32,8 persen dari APBD 2025. Meski cukup besar, ia menilai efektivitas penggunaannya harus diperkuat agar benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.

“Anggaran sudah besar, tapi harus tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh siswa dan sekolah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya integrasi kebijakan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar tidak terjadi tumpang tindih program.

“Sistem pendidikan harus terintegrasi supaya hasilnya optimal,” katanya.

Dalam aspek digital, Deni menilai kesiapan infrastruktur dan literasi teknologi di Jawa Timur masih belum merata. Masih ada sekolah yang mengalami keterbatasan akses internet dan perangkat pendukung pembelajaran digital.

“Ini menjadi tantangan serius di tengah percepatan digitalisasi pendidikan,” jelasnya.

Selain itu, ia menyinggung rencana penghapusan jurusan di jenjang pendidikan menengah yang perlu dikaji secara matang agar tidak membingungkan siswa.

“Perubahan sistem harus jelas, jangan sampai siswa kehilangan arah,” tegasnya.

Deni menekankan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan pembenahan serius dan berkelanjutan.

“Perbaikan pendidikan harus berbasis data dan dilakukan secara konsisten,” pungkasnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *