SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Rencana perluasan boezem di kawasan Simomulyo Baru yang digagas Pemerintah Kota Surabaya menuai perhatian warga. Sejumlah warga menyampaikan kekhawatiran karena proyek tersebut berpotensi menggusur rumah yang telah lama mereka tempati.
Aspirasi tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi C DPRD Kota Surabaya pada Kamis (5/3/2026). Rapat dipimpin Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, serta dihadiri perwakilan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Lurah Simomulyo Baru, serta perwakilan RT dan RW setempat.
Dalam forum tersebut, suara warga disampaikan melalui surat dari Haris Prasetyo, salah satu warga yang rumahnya berdiri di atas lahan berstatus Izin Pemakaian Tanah (IPT). Surat tersebut dibacakan sebagai bentuk penyampaian kegelisahan warga yang terdampak rencana pembangunan boezem.
Dalam suratnya, Haris meminta para pemangku kebijakan dapat menempatkan diri pada posisi warga yang rumahnya terancam tergusur. Ia menjelaskan rumah yang ditempatinya bersama keluarga telah berdiri sejak tahun 1985, sehingga rencana penggusuran menimbulkan kekhawatiran besar bagi mereka.
Selain itu, ia juga mempertanyakan apakah sudah dilakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi saluran air di wilayah tersebut sebelum memutuskan perluasan boezem. Menurutnya, perbaikan serta perawatan rutin saluran gorong-gorong maupun sungai bisa menjadi solusi alternatif tanpa harus menggusur puluhan rumah warga.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Infrastruktur Wilayah DSDABM Surabaya, Windo Gusman Prasetyo menjelaskan bahwa pembangunan boezem baru merupakan kebutuhan berdasarkan kajian teknis.
Ia menyebut kondisi topografi di kawasan hulu membuat aliran air menjadi sangat deras ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Aliran dari wilayah Kupang Baru, Kupang Jaya hingga kawasan sekitar Pasar Modern Darmo Permai bermuara pada saluran yang kapasitasnya saat ini sudah tidak optimal.
“Boezem yang lama secara kapasitas sudah tidak mampu menampung derasnya debit air ketika curah hujan tinggi, sehingga diperlukan boezem baru untuk mengurangi risiko banjir,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Surabaya, Juliana Eva Wati menekankan pentingnya mencari solusi terbaik yang dapat diterima semua pihak. Ia mengusulkan agar DPRD, pemerintah kota, dan warga melakukan survei lapangan bersama untuk melihat langsung kondisi wilayah yang direncanakan menjadi lokasi boezem.
“Kalau bisa kita survei bersama-sama agar benar-benar mengetahui kondisi di lapangan sekaligus mencari solusi terbaik,” ujarnya.
Menutup rapat tersebut, Eri Irawan menegaskan DPRD akan meminta pemaparan yang lebih komprehensif dari pemerintah kota terkait rencana perluasan boezem tersebut. Ia juga membuka kemungkinan dilakukan kunjungan lapangan bersama guna memastikan keputusan yang diambil nantinya benar-benar mempertimbangkan kepentingan warga sekaligus kebutuhan penanganan banjir di kawasan tersebut.

