SURABAYA – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Zulkarnain Abdil Aziz, anak penyandang Down syndrome yang meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan di kawasan Rungkut, Surabaya. Di tengah kesedihan tersebut, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Reni Astuti, mendatangi rumah duka pada Minggu (18/10/2026) untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga korban.
Dalam kunjungan tersebut, Reni bertemu langsung dengan ayah korban dan menyaksikan kesedihan yang dirasakan keluarga. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya untuk memperoleh informasi mengenai peristiwa yang terjadi pada September 2026 tersebut.
“Intinya, menyampaikan belasungkawa, duka mendalam terhadap kejadian ini. Saya melihat kesedihan yang dirasakan oleh orang tuanya,” ujar Reni.
Bagi Reni, tragedi yang menimpa anak penyandang disabilitas tersebut tidak boleh berlalu tanpa evaluasi. Peristiwa ini harus menjadi momentum bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk memperkuat pendidikan karakter serta menanamkan nilai empati kepada anak sejak dini.
Ia menilai, berbagai faktor perlu dicermati, mulai dari pola pengasuhan di keluarga, lingkungan pergaulan, hingga tontonan yang dikonsumsi anak-anak. Semua itu perlu menjadi perhatian bersama agar nilai kasih sayang, kepedulian, dan kebiasaan saling menolong tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak disabilitas dengan kebutuhan khusus mestinya disayangi, ditolong. Ini bagaimana menanamkan jiwa welas asih, menanamkan jiwa tolong-menolong, dan menanamkan rasa sayang kepada teman. Ini harus tertanam,” tegasnya.
Dorong Pendampingan dan Penanganan Sesuai Hukum
Selain menyoroti pendidikan karakter, Reni memberikan perhatian terhadap proses penanganan perkara yang telah ditangani kepolisian. Ia berharap proses tersebut berjalan sesuai mekanisme hukum yang berlaku dan memberikan perhatian terhadap harapan keluarga korban.
Menurutnya, penanganan kasus ini juga perlu disertai pendampingan yang tepat terhadap anak yang diduga terlibat. Mengingat anak tersebut masih berusia sekitar 10 tahun, pendekatan pendidikan, pembinaan, dan pendampingan perlu menjadi bagian penting dalam proses penanganannya.
Reni berharap orang tua anak yang diduga terlibat dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan proses pembinaan berjalan optimal. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah perilaku kekerasan berulang sekaligus menumbuhkan pemahaman tentang empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain.
“Ini untuk keselamatan anak itu nanti ketika dia besar, dan juga untuk membantu orang tua dalam rangka mendidik anak ini,” ungkapnya.
Reni menegaskan, perhatian terhadap kasus tersebut tidak hanya menyangkut upaya memperoleh kejelasan atas peristiwa yang menimpa korban, tetapi juga memastikan anak-anak yang terlibat mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan dan ketentuan hukum yang berlaku.
Perhatikan Kondisi Keluarga Korban
Di tengah musibah yang dialami keluarga Zulkarnain, Reni juga memberikan perhatian terhadap kondisi anggota keluarga yang ditinggalkan. Ia berharap kakak korban yang masih menempuh pendidikan di tingkat SMK dapat melanjutkan sekolah dengan baik meskipun sedang menghadapi masa sulit.
Selain itu, ia mendorong agar ayah korban yang tengah menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo memperoleh penanganan medis terbaik.
Bagi Reni, tragedi ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja bersama membangun lingkungan yang aman, inklusif, serta bebas dari kekerasan.
Setiap anak, termasuk anak penyandang disabilitas, berhak mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan perlakuan yang bermartabat. Perbedaan kondisi maupun kemampuan tidak boleh menjadi alasan bagi siapa pun untuk mengabaikan hak anak atas rasa aman.
Diketahui, Zulkarnain Abdil Aziz, anak berusia 10 tahun penyandang Down syndrome, meninggal dunia setelah ditemukan dalam kondisi kritis di kawasan Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Kecamatan Rungkut, Surabaya, pada Sabtu (12/9/2026).
Berdasarkan keterangan keluarga yang diberitakan sejumlah media, korban ditemukan dengan tali sepatu melilit lehernya. Keluarga menduga korban mengalami kekerasan yang melibatkan anak-anak sebaya. Rekaman CCTV juga disebut memperlihatkan dua anak berada di sekitar lokasi sebelum kejadian diketahui.
Korban sempat dibawa ke RSUD Eka Candrarini, tetapi nyawanya tidak tertolong. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada kepolisian. Dugaan dan kronologi kejadian masih perlu merujuk pada hasil penyelidikan resmi untuk memastikan fakta serta pihak-pihak yang bertanggung jawab.

