BRIN Kembangkan PLTN, Wihatmoko: Energi Nuklir Bisa Perkuat Pasokan Listrik

SURABAYA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan pemanfaatan energi nuklir untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pengembangan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN, Dr. Wihatmoko Waskitoaji, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Literasi dan Fundamental Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) di Surabaya, Minggu (25/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi BRIN dengan Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno.

Wihatmoko menilai energi nuklir menjadi salah satu alternatif penting untuk memenuhi kebutuhan listrik di tengah tantangan perubahan iklim. Menurutnya, ketergantungan terhadap batu bara dan minyak bumi untuk pembangkit listrik turut menyumbang persoalan lingkungan.

“Dunia kan akhirnya bergeser ke nuklir untuk energi listrik. Walaupun terjadi beberapa kasus seperti di Chernobyl dan Fukushima, tetap saja yang mengakibatkan iklim dunia berubah itu adalah batu bara,” ujar Wihatmoko.

Ia menjelaskan, pembakaran bahan bakar fosil dalam skala besar berdampak terhadap perubahan iklim. Karena itu, Indonesia dinilai perlu mengembangkan sumber energi alternatif, termasuk nuklir, untuk mendukung kebutuhan listrik jangka panjang.

Wihatmoko menegaskan, pengembangan teknologi nuklir di Indonesia diarahkan untuk kepentingan sipil, bukan untuk pembuatan senjata. Selain berpotensi dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, teknologi nuklir juga digunakan dalam bidang kesehatan, terutama untuk mendukung diagnosis dan pengobatan.

Dalam pengembangannya, ia menyebut adanya kolaborasi dengan Rusia. Wihatmoko juga menyinggung rencana penempatan fasilitas PLTN di sebuah pulau di wilayah Banten yang disebutnya sebagai Pulau Ular. Listrik yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat disalurkan untuk memenuhi kebutuhan wilayah Jawa dan Bali.

Menurutnya, PLTN berpotensi menjadi salah satu penopang pasokan listrik yang stabil. Keberadaan pembangkit tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan pasokan listrik berskala luas atau blackout, seperti yang pernah terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Batam, Kepulauan Riau.

Meski demikian, realisasi PLTN tetap membutuhkan kajian mendalam, termasuk terkait keselamatan, pemilihan lokasi, pembiayaan, teknologi, serta kesiapan infrastruktur penyaluran listrik.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, menyoroti pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam kegiatan tersebut, Puti hadir secara daring.

“Seberapa cepat teknologi itu mengubah peradaban? Salah satu lompatan besarnya adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence,” ujarnya.

Menurut Puti, literasi AI tidak boleh hanya dipahami sebagai kemampuan teknis dalam mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi. Lebih dari itu, masyarakat perlu memahami cara kerja algoritma, proses pengolahan data, serta logika yang mendasari teknologi kecerdasan buatan.

Ia menekankan tiga aspek penting dalam literasi AI, yakni pemahaman fundamental teknologi, sikap kritis terhadap dampaknya, serta pemanfaatan teknologi berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Masyarakat, lanjutnya, harus mampu menilai informasi secara kritis, menghindari manipulasi data, serta menjaga etika, privasi, dan keamanan nasional dalam penggunaan teknologi digital.

“Teknologi boleh cerdas tinggi, tapi etika, empati, kebudayaan, dan karakter bangsa harus tetap dijunjung tinggi,” tegasnya.

Kegiatan tersebut diikuti ratusan anak muda di Surabaya, mayoritas mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami perkembangan teknologi AI, tetapi juga memiliki kesadaran kritis dalam memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *