SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Hujan yang turun menjelang waktu berbuka puasa tidak menyurutkan semangat relawan Tim Beldex Pioneer untuk berbagi kepada sesama. Di tengah rintik hujan, mereka tetap membagikan ratusan paket takjil kepada para pengendara yang melintas di Jalan Semarang, tepat di depan Stasiun Pasar Turi, Minggu (15/3/2026).
Sejumlah relawan tampak berdiri di tepi jalan. Sebagian mengenakan jas hujan, sementara yang lain berteduh di balik payung. Dengan senyum ramah, mereka menyodorkan paket takjil kepada pengendara yang melintas dan tengah berpacu dengan waktu menuju azan Magrib.
Satu per satu kendaraan memperlambat laju untuk menerima takjil. Ada yang menepi sejenak, ada pula yang hanya meraih paket dari tangan relawan tanpa turun dari kendaraan.
“Monggo mas,” ujar salah satu relawan sambil memberikan dua paket takjil kepada pengendara yang berboncengan.
Aksi berbagi itu juga dihadiri oleh Anggota DPRD Kota Surabaya Tri Didik Adiono yang turut berdiri di pinggir jalan menyapa para pengendara.
Seorang pengendara bahkan sempat menyampaikan ucapan terima kasih saat melintas.
“Suwun Cak Didik,” ucapnya singkat.
Didik yang akrab disapa Didik Beldex itu pun membalas dengan acungan jempol. Bagi pembina Tim Beldex Pioneer tersebut, momen sederhana seperti itu menjadi kebahagiaan tersendiri di bulan Ramadan.
Menurut Didik, kegiatan berbagi takjil ini sudah menjadi agenda rutin yang digelar setiap pekan selama bulan suci Ramadan.
“Alhamdulillah, meski kondisi hujan, Tim Beldex Pioneer tetap bersemangat membagikan takjil hingga habis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu para pengendara yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba.
“Ini sudah menjadi rutinitas Tim Beldex Pioneer. Hujan tidak menjadi penghalang bagi kami untuk sedikit meringankan warga yang masih berada di jalan saat waktu berbuka,” katanya.
Tak butuh waktu lama, sekitar 250 paket takjil yang disiapkan relawan habis terbagikan dalam waktu kurang dari satu jam.
Menjelang azan Magrib, kegiatan berbagi itu pun selesai. Para relawan perlahan meninggalkan lokasi, sementara arus kendaraan kembali mengalir di ruas jalan yang mulai dipenuhi cahaya lampu kota.
Di tengah hujan yang masih mengguyur Surabaya sore itu, aksi sederhana tersebut meninggalkan kehangatan Ramadan—bahwa di balik padatnya jalanan kota, selalu ada ruang untuk berbagi dan menebar kebaikan.

