SURABAYA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI menggelar pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi jurnalis di Kota Surabaya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman wartawan terhadap teknologi AI untuk mendukung produktivitas dan kualitas karya jurnalistik.
Pelatihan tersebut berlangsung di Rich Palace Hotel, Jalan HR Muhammad, Surabaya. Acara ini diikuti lebih dari 50 wartawan dari Pokja Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Surabaya.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anggota Komisi X DPR RI Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM, Ketua Pokja Judes Inyong Maulana, serta narasumber dari BRIN, Prof. Dr. Hanif Fakhurroja, S.Si., M.T. Turut hadir jajaran penasihat SMSI Kota Surabaya dan para wartawan.
Dalam sambutannya, Reni Astuti menekankan pentingnya peran jurnalis dalam mengawal pembangunan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut dia, jurnalis memiliki kontribusi penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah. Kehadiran berbagai platform digital juga membuat penyebaran informasi semakin mudah dan cepat.
“Pembangunan sebuah kota sangat dipengaruhi oleh keberadaan serta peran aktif para jurnalis. Terlebih saat ini, di mana platform digital berkembang pesat, semua orang memiliki wadah dan gawai untuk mendokumentasikan serta membagikan informasi secara luas,” tuturnya.
Sementara itu, Prof. Hanif memaparkan berbagai pemanfaatan AI yang dapat menunjang pekerjaan jurnalistik. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu transkripsi wawancara, penyuntingan naskah, hingga penyusunan ringkasan berita.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus tetap disertai sikap kritis dan tanggung jawab. Teknologi ini sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi kerja, bukan menggantikan peran jurnalis dalam melakukan verifikasi informasi.
“Jurnalis tetap harus memegang teguh kaidah jurnalistik dan menghindari pelanggaran kode etik, seperti menyebarkan hoaks atau konten hasil AI yang tidak terverifikasi,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, para jurnalis diharapkan semakin memahami penggunaan AI secara tepat dan bertanggung jawab. Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses kerja jurnalistik tanpa mengabaikan akurasi, independensi, serta etika dalam penyampaian informasi kepada publik.

