SURABAYA (Kabarjawatimur) – Pengalaman berbeda dirasakan tiga jurnalis cilik SD Muhammadiyah 6 Gadung, Surabaya. Mereka berkesempatan mewawancarai Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia. Status Lia sebagai senator dari Jawa Timur juga tercatat dalam publikasi resmi DPD RI.
Tiga jurnalis cilik tersebut adalah Naura Qonita Aulia Z., Aisyah Nabila Azzahra R., dan Michelle Alesha Hermawan. Dengan penuh percaya diri, ketiganya bergantian mengajukan pertanyaan, mulai dari cita-cita masa kecil, pelajaran favorit, hobi hingga alasan Ning Lia memilih jalan pengabdian kepada masyarakat.
Suasana wawancara berlangsung cair. Senator cantik ini pun menjawab pertanyaan anak-anak tersebut dengan bahasa sederhana dan sesekali mengenang masa kecilnya.
Ia bercerita bahwa semasa kecil pernah memiliki berbagai cita-cita. Mulai ingin menjadi dokter karena bisa membantu orang lain hingga bercita-cita menjadi guru agar dapat mengajar.
“Banyak sekali cita-cita. Intinya pekerjaan-pekerjaan yang membuat kita bisa menolong dan memberikan manfaat kepada orang lain,” tutur politisi cantik
Keinginan menjadi anggota dewan, lanjutnya, juga pernah muncul. Salah satu alasannya karena pekerjaan tersebut memungkinkan dirinya bertemu banyak orang sekaligus mendengarkan berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Menurut Ning Lia, menjadi wakil masyarakat bukan sebatas hadir dalam kegiatan formal. Ada tanggung jawab untuk mendengar aspirasi dan bersama masyarakat berusaha menemukan jalan keluar.
“Kita bisa mendengarkan orang lain, mengetahui persoalan mereka, kemudian bersama-sama mencari solusi,” ujar politisi mantan model
Pertanyaan sederhana para jurnalis cilik juga membawa obrolan pada masa sekolah Ning Lia. Ia mengaku menyukai matematika karena pelajaran tersebut membuat seseorang terbiasa berpikir dan mencari strategi dalam memecahkan persoalan.
Selain itu, membaca menjadi salah satu kegemarannya. Dari pengalamannya tersebut, Ning Lia kemudian berpesan kepada ketiga jurnalis cilik agar tidak berhenti membaca dan belajar. Kebiasaan tersebut dinilainya menjadi modal penting bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menemukan potensi diri.
Ia juga mengapresiasi keberanian Naura, Aisyah dan Michelle yang belajar menjadi jurnalis sejak usia sekolah dasar.
“Contohnya kalian sebagai jurnalis dari Muhammadiyah. Kalian bisa mewawancarai orang, belajar berkomunikasi, memberikan senyuman kepada orang lain. Itu juga merupakan sebuah kontribusi,” kata politisi pecinta batik.
Ning Lia menegaskan bahwa kontribusi kepada bangsa tidak selalu harus dilakukan melalui dunia politik. Anak-anak, menurutnya, dapat mengambil peran melalui pendidikan, prestasi dan karya sesuai kemampuan masing-masing.
Ia berharap jurnalis cilik SD Muhammadiyah 6 Gadung terus mengasah kemampuan menulis dan mengamati lingkungan di sekitar mereka.
“Jadilah anak yang pintar, suka belajar. Nanti kalau sudah besar, kalian bisa mengharumkan nama bangsa dengan karya dan prestasi. Banyak yang bisa kalian berikan untuk negara ini, tidak harus melalui kancah politik,” pesannya.
Secara khusus, Ning Lia memberikan tiga pesan kepada para jurnalis cilik. Ia mengajak mereka gemar membaca dan belajar, selalu menghormati orang tua serta guru, dan terus bersemangat menghasilkan karya.
“Kepada anak-anak hebat, jurnalis cilik SD Muhammadiyah 6 Surabaya, jadilah anak-anak yang suka membaca, suka belajar, selalu menghormati orang tua dan guru kalian. Kemudian teruslah bersemangat membangun karya,” ujarnya.
Menurutnya, sebuah karya tidak harus selalu besar. Tulisan sederhana mengenai lingkungan sekolah, keluarga ataupun kejadian sehari-hari sudah menjadi langkah awal untuk belajar memberikan manfaat.
“Kami para orang tua menunggu karya-karya kalian. Karya itu tidak harus besar. Karya sederhana saja, misalnya kalian menulis tentang apa pun yang ada di sekitar kalian,” imbuhnya.
Menutup wawancara, Ning Lia juga menyampaikan pesan kepada anak-anak Indonesia agar tumbuh menjadi pribadi tangguh dan tidak mudah menyerah.
“Jadilah pribadi yang tangguh. Jangan pernah merasa sendiri karena kalian memiliki orang tua, teman dan keluarga yang selalu menyayangi serta mendoakan kalian. Teruslah bersemangat membangun karya,” pungkas Ning Lia.
Wawancara tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Naura, Aisyah dan Michelle. Bukan hanya berlatih bertanya kepada narasumber, ketiganya juga mendapatkan pesan bahwa langkah sederhana seperti membaca, menulis dan berani berkarya dapat menjadi awal untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

