GRESIK, (Kabarjawatimur.com) – Industrialisasi yang terus tumbuh di Kabupaten Gresik menuntut pesantren tidak berhenti sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren didorong beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia industri.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar. Dia menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam menghadapi dampak industrialisasi sekaligus memastikan masyarakat lokal ikut menikmati pertumbuhan ekonomi.
Menurut Cak Imin, pesantren merupakan salah satu ekosistem sosial yang paling kuat dan mengakar di tengah masyarakat. Karena itu, pesantren dapat mengambil peran lebih besar dalam penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Tidak ada ekosistem yang paling kuat dan mengakar kecuali pesantren di Tanah Air kita, sehingga ekosistem penanggulangan kemiskinan dan pemberdayaan yang sangat siap itu adalah pesantren,” kata Cak Imin.
Gagasan tersebut sejalan dengan pembahasan dalam Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk “Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri” yang digelar Local Media Network (LMN) di D’jiwana Caffe, Kecamatan Dukun, Gresik, pada Selasa (28/7/2026).
Diskusi yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan masyarakat lokal, mengupas dampak industrialisasi terhadap identitas sosial dan kehidupan masyarakat Gresik yang selama ini lekat dengan predikat Kota Santri.
Salah satu narasumber, tokoh masyarakat Kecamatan Dukun Agus Ahmad Musfis Salam atau Gus Salam, mengatakan pesantren perlu merespons perubahan tersebut dengan memperkuat pendidikan vokasi dan keterampilan.
Menurut dia, pendidikan berbasis keterampilan dapat menjadi bekal bagi santri untuk memasuki dunia kerja, sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas pesantren.
“Pesantren harus menjawab tantangan zaman. Banyak yang membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan agar para santri memiliki bekal yang cukup ketika memasuki dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan,” ujarnya.
Namun, industrialisasi tidak hanya membawa peluang ekonomi. Perubahan struktur sosial juga berpotensi memunculkan persoalan baru. Gus Salam menyinggung perubahan pola pendidikan, berkurangnya pengawasan orang tua karena tuntutan jam kerja, hingga tantangan moral yang muncul di lingkungan masyarakat industri.
“Karena itu, pesantren tidak cukup hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga harus menjadi benteng moral dan pusat pembinaan karakter generasi muda,” katanya.
Persoalannya bukan memilih antara industrialisasi atau mempertahankan identitas Gresik sebagai Kota Santri. Tantangannya adalah memastikan keduanya dapat berjalan beriringan.
Diskusi LMN menyimpulkan, pemerintah, pesantren, tokoh agama, masyarakat, dan dunia usaha perlu membangun kolaborasi agar pertumbuhan industri tidak membuat masyarakat lokal tersisih dari manfaat ekonomi.
Dengan demikian, industrialisasi tidak sekadar mengubah lanskap ekonomi Gresik, tetapi juga menjadi momentum bagi pesantren untuk memperluas perannya—dari pusat pendidikan agama menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja sekaligus menjaga karakter masyarakat di tengah perubahan zaman.
Reporter : Azharil Farich

