Revitalisasi Pasar Tembok Dukuh Rampung Mei, Larang Potong Unggas dan Tambah Kapasitas Stan


Surabaya ( Kabarjawatimur.com) – Wajah baru Pasar Tembok Dukuh dipastikan segera menyapa warga Surabaya pada pertengahan Mei mendatang. Selain perbaikan infrastruktur, PD Pasar Surya melakukan penataan signifikan, salah satunya dengan meniadakan aktivitas pemotongan unggas hidup di dalam area pasar demi menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Direktur Utama PD Pasar Surya, Agus Priyo, menegaskan bahwa perubahan ini telah dipahami oleh para pedagang. Kini, pedagang unggas yang sebelumnya berjumlah 12 orang telah beralih hanya menjual daging unggas yang sudah dipotong.

“Sebelumnya ada aktivitas yang melanggar aturan seperti pemotongan di dalam. Sekarang, pedagang sudah memahami dan beralih ke penjualan daging bersih,” ujar Agus disela kegiatannya di Pasar Tembok Dukuh, Selasa (28/4).

Revitalisasi ini tidak hanya menyasar estetika, tetapi juga optimalisasi ruang. Kapasitas Pasar Tembok Dukuh kini meningkat tajam dari semula 135 stan menjadi 189 stan.

Agus memastikan bahwa kekhawatiran pedagang akan kehilangan tempat jualan tidak terbukti.
Sesuai instruksi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, seluruh pedagang lama dipastikan tetap mendapatkan haknya.

“Hanya ada penyesuaian jenis dagangan agar lebih tertib, namun hak atas stan tetap utuh,” imbuh Agus.

Selain pedagang eksisting, PD Pasar Surya juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk mengakomodasi pedagang pasar tumpah ke dalam area pasar.

Sebanyak 54 pedagang potensial telah disosialiskan untuk masuk agar tidak lagi berjualan di bahu jalan.

Meski penataan berjalan lancar, sejumlah pertanyaan muncul dari pedagang yang terdampak relokasi. Rahman, salah satu pedagang, sempat mempertanyakan nasib stannya setelah ia direlokasi ke Pasar Wonokromo akibat aktivitas pemotongan unggas yang dilakukannya.

“Tadi saya tanya ke Pak Wali Kota, bagaimana nasib stan kami (di Pasar Tembok Dukuh, red) karena saya dipindahkan ke Wonokromo karena masalah potong unggas itu,” tutur Rahman.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Eri Cahyadi memberikan penjelasan lugas. Ia menegaskan bahwa aturan pelarangan pemotongan hewan hidup di dalam pasar bersifat mutlak untuk menjaga standar sanitasi kota.

“Aktivitas pemotongan hewan hidup atau unggas di dalam pasar memang tidak diperbolehkan. Kalau mau jualan dagingnya saja, silakan, itu boleh. Tapi kalau potong di situ, tidak boleh,” tegas Eri.

Sebagai solusi, Pemkot Surabaya tengah menyiapkan infrastruktur pendukung berupa Rumah Potong Unggas (RPU) di beberapa titik strategis agar pasokan daging ke pasar-pasar tetap higienis.

Perbaikan Pasar Tembok Dukuh merupakan bagian dari proyek besar Pemkot Surabaya tahun ini. Tercatat ada 15 pasar yang ditargetkan rampung direvitalisasi pada tahun 2026, termasuk Pasar Kapasan dan Pasar Kendangsari yang kini sudah tampil lebih bersih.

Fokus perbaikan mencakup kebutuhan dasar pedagang dan pembeli, yakni perbaikan lantai agar tidak becek dan penggantian atap yang bocor.

“Kami ingin pasar tradisional tidak lagi kumuh, sehingga nyaman bagi warga untuk bertransaksi,” pungkas Agus Priyo.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *