apakah Kartini sendiri pernah benar-benar merasakan kebebasan yang kita rayakan hari ini?Selama ini, R.A. Kartini kerap ditempatkan dalam narasi kemenangan. Ia dipotret sebagai simbol perempuan yang berhasil menembus batas zaman, membawa cahaya bagi kaumnya, dan menandai kemenangan emansipasi.
Padahal jika menengok sejarah secara lebih jernih, kisah Kartini justru jauh lebih rumit. Ia tidak lahir di ruang bebas, melainkan tumbuh di tengah struktur sosial yang mengekang.Kartini adalah putri R.M.A.A. Sosroningrat, seorang bupati dalam sistem kolonial Hindia Belanda. Ibunya, Ngasirah, bukan berasal dari kalangan bangsawan tinggi.
Dalam tatanan feodal Jawa saat itu, posisi tersebut menempatkannya sebagai istri tidak utama. Situasi ini menunjukkan bahwa sejak lahir pun, Kartini sudah berada dalam pusaran hierarki kelas, gender, dan kekuasaan yang ketat.Namun sejarah tidak pernah sepenuhnya hitam-putih. Di tengah sistem yang membatasi, Kartini tetap memperoleh akses pendidikan dan kesempatan mengenal dunia bacaan.
Dari celah kecil inilah kesadaran tumbuh. Ketika memasuki masa pingitan—tradisi yang membatasi gerak perempuan bangsawan hingga menikah—Kartini justru membangun dunia intelektualnya sendiri. Ia membaca, berpikir, dan menulis surat kepada banyak tokoh Eropa.
Korespondensi Kartini dengan Estelle Zeehandelaar, J.H. Abendanon, serta sejumlah tokoh lain, memperlihatkan bahwa dirinya bukan sekadar perempuan yang mengeluh atas nasib. Ia sedang menyusun gagasan.
Dalam surat-surat itu, Kartini membahas pendidikan, kebudayaan, ketidakadilan terhadap perempuan, hingga kebebasan berpikir. Ia melihat bahwa penindasan terhadap perempuan bukanlah takdir, melainkan konstruksi sosial yang dapat diubah.
Dari sinilah Kartini tampil bukan hanya sebagai korban zaman, tetapi sebagai intelektual yang melampaui zamannya. Ia menyadari bahwa kebebasan bukan hadiah, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Bahkan peluang besar sempat datang ketika terbuka kesempatan belajar ke Belanda. Sayangnya, kesempatan itu tak pernah terwujud.
Kartini menikah, lalu wafat pada tahun 1904 dalam usia muda setelah melahirkan anak pertamanya.Di titik inilah narasi tentang Kartini sebagai simbol kemenangan terasa terlalu sederhana. Kartini tidak pernah benar-benar sampai pada garis akhir yang kini kita rayakan. Ia tidak menikmati kebebasan penuh. Ia tidak sempat mewujudkan cita-cita pendidikannya.
Ia tidak sempat melihat perubahan besar yang diperjuangkannya.Namun justru di sanalah kebesaran Kartini.Ia mungkin tidak berhasil keluar sepenuhnya dari struktur yang membelenggu, tetapi ia berhasil menyadari bahwa dirinya dibelenggu. Kesadaran semacam itu jauh lebih radikal daripada sekadar seremoni tahunan.
Sebab perubahan selalu dimulai dari keberanian menamai ketidakadilan.Masalahnya, kita terlalu cepat menjadikan Kartini simbol yang nyaman. Kita potong kegelisahannya, kita rapikan pikirannya, lalu kita pajang sebagai pahlawan emansipasi yang selesai.
Padahal Kartini lebih tepat dibaca sebagai pertanyaan yang belum tuntas, bukan jawaban yang sudah rapi.Maka mungkin yang perlu kita akui setiap Hari Kartini bukan bahwa Kartini telah menang. Melainkan bahwa ia bahkan belum sempat bertanding sepenuhnya.Dan kita hari ini?Masih sibuk merayakan garis finis yang tidak pernah ia lewati.
Oleh: Catur Ambyah
Dosen Kewarganegaraan dan Master Ilmu Sosial

