SURABAYA (Kabarjawatimur) — Meningkatnya kasus influenza di Surabaya, khususnya yang menyerang anak-anak, mulai menjadi perhatian serius. Anggota DPRD Jawa Timur dari daerah pemilihan Surabaya, Lilik Hendarwati, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak sekadar mengimbau masyarakat, tetapi memperkuat mitigasi di lingkungan sekolah.
Menurut Lilik, sekolah menjadi salah satu lokasi yang rawan mempercepat penularan karena anak-anak beraktivitas dan berkumpul dalam jumlah besar setiap hari.
“Segera mitigasi di sekolah-sekolah. Harus ada pemeriksaan, mungkin secara intensif utamanya di sekolah, karena sekolah itu tempat anak-anak berkumpul. Ketika satu terserang, hampir satu kelas bisa ikut terserang,” kata Lilik, yang juga Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim.
Lilik menilai langkah deteksi dini penting dilakukan menyusul adanya laporan peningkatan kasus demam dan influenza di tengah perubahan cuaca. Ia meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya memperkuat sosialisasi sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai gejala dan langkah penanganannya.
“Yang pertama tentu sosialisasi tentang adanya kondisi ini, membangun kesadaran masyarakat tanpa menimbulkan kepanikan. Kemudian pemeriksaan bagi yang merasa mengalami gejala,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang mengalami gejala influenza agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas.
Selain pemeriksaan, Lilik meminta warga yang sedang sakit mengurangi aktivitas di tempat kerumunan. Anak yang mengalami gejala influenza, menurut dia, sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak dipaksakan mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Bagi yang sakit harus langsung tidak berada di tempat-tempat kerumunan. Yang sekolah atau bekerja, kalau sedang sakit, istirahat dulu,” tegasnya.
Lilik menilai upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus sudah muncul. Faktor lingkungan perkotaan, termasuk kualitas udara, juga perlu mendapat perhatian pemerintah karena berhubungan dengan kondisi kesehatan masyarakat.
Ia berharap perangkat daerah terkait dapat melakukan mitigasi secara terpadu, mulai edukasi, deteksi dini, pemeriksaan hingga pengendalian aktivitas warga yang sedang sakit.
Di sisi lain, Lilik menyebut masih menerima keluhan masyarakat terkait kualitas air di sejumlah wilayah. Menurutnya, persoalan lingkungan tersebut juga perlu menjadi perhatian karena kualitas lingkungan memiliki keterkaitan dengan kesehatan warga.
“Mitigasi harus dilakukan secara terpadu. Jangan sampai penanganan baru dilakukan setelah kasus semakin banyak,” katanya.
Sementara itu, data surveilans Kementerian Kesehatan per 12 September 2026 menunjukkan proporsi influenza pada minggu ke-35 mencapai 38 persen, meningkat dibandingkan 22 persen pada minggu sebelumnya.
Data tersebut merupakan bagian dari pemantauan influenza dan penyakit pernapasan melalui fasilitas kesehatan sentinel.
Lilik menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan meski pelayanan kesehatan di Surabaya disebut masih berjalan normal. Menurutnya, pencegahan sejak lingkungan sekolah dan keluarga menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan.
“Yang penting masyarakat tetap tenang, tetapi kewaspadaan dan langkah pencegahan jangan diabaikan,” pungkasnya.

