Panggung Musik Lokal Minim, Abah Beldex Soroti Nasib Rock Surabaya

SURABAYA – Geliat musik rock di Surabaya disebut tak lagi semarak seperti beberapa dekade sebelumnya. Minimnya ruang pertunjukan menjadi salah satu persoalan yang dinilai menghambat munculnya generasi baru musisi rock di Kota Pahlawan.

Sorotan tersebut datang dari Tri Didik Adiono, mantan vokalis band rock legendaris Power Panther yang kini menjadi anggota DPRD Kota Surabaya. Pria yang akrab disapa Abah Didik Beldex itu mengatakan, keberadaan panggung merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sebuah ekosistem musik.

Menurutnya, Surabaya pada masa lalu memiliki sejumlah lokasi yang menjadi tempat berkumpul sekaligus unjuk kemampuan para musisi. Taman Remaja Surabaya (TRS) dan kawasan Tambaksari, misalnya, pernah menjadi bagian dari perjalanan musik di Surabaya.

“Yang utama adalah sarana. Sarana di Surabaya ini hampir tidak ada. Kalau zaman saya dulu ada Taman Remaja, Tambaksari bisa dipakai pagelaran, banyak tempat yang bisa dipakai,” katanya.

Abah Beldex menilai persoalannya bukan semata-mata tidak adanya gedung atau lokasi untuk menggelar pertunjukan. Kesempatan bagi musisi lokal untuk mengisi panggung juga dinilai masih terbatas.

Ia menyebut sejumlah pusat perbelanjaan memang kerap menggelar pertunjukan musik. Namun, musisi yang didatangkan lebih banyak berasal dari Jakarta. Di sisi lain, banyak band lokal Surabaya yang menurutnya memiliki kemampuan dan karya yang layak mendapatkan ruang tampil.

“Jangan sampai panggung yang ada hanya menjadi tempat untuk mendatangkan musisi dari luar. Anak-anak Surabaya juga harus diberi kesempatan,” ujarnya.

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah akses menuju industri rekaman. Menurut dia, perkembangan industri musik di Jakarta dan Bandung didukung oleh ekosistem yang lebih dekat antara musisi, studio, pelaku industri, hingga penyelenggara pertunjukan.

Sementara musisi daerah harus menghadapi keterbatasan akses dan fasilitas untuk mengembangkan karya mereka secara berkelanjutan.

Karena itu, ia meminta pemerintah kota tidak hanya melihat musik sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari ruang kreativitas anak muda. Kolaborasi dengan promotor, komunitas musik, pelaku industri, dan penggemar musik dinilai diperlukan untuk membangun kembali ekosistem tersebut.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, kata dia, adalah membuat festival band secara rutin, termasuk dengan melibatkan pelajar.

“Berikan mereka kesempatan. Pemerintah kota bisa bekerja sama mengadakan event festival band tingkat pelajar. Potensi anak-anak muda ini harus terus digali dan diberi wadah,” pungkasnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *