SURABAYA (KabarJawatimur) — Pelaksanaan proyek pelebaran saluran air dan gorong-gorong di Kota Surabaya diminta tidak hanya berorientasi pada kecepatan pengerjaan. Faktor keselamatan pengguna jalan, kebersihan lokasi, hingga kondisi cuaca selama proyek berlangsung harus menjadi perhatian serius kontraktor dan pengawas.
Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Achmad Nurdjayanto, mengatakan pekerjaan infrastruktur yang dilakukan di badan jalan memiliki risiko terhadap aktivitas masyarakat. Karena itu, setiap tahapan pekerjaan harus memperhitungkan kondisi lingkungan sekitar.
Menurut Achmad, proses pembersihan setelah pekerjaan juga tidak boleh dianggap sebagai hal sepele. Material sisa proyek, tanah, pasir maupun lumpur yang tertinggal di jalan dapat membahayakan pengendara, terlebih ketika hujan turun.
“Proses pembersihan juga harus diperhatikan. Jangan sampai setelah pekerjaan selesai masih ada material atau lumpur yang tertinggal di jalan. Apalagi kalau hujan, kondisi jalan bisa menjadi licin dan membahayakan masyarakat,” ujar Achmad.saat dihubungi Jumat 28 Agustus 2026.
Ia juga meminta kontraktor memperhatikan kondisi cuaca sebelum dan selama pekerjaan berlangsung. Menurutnya, hujan dapat memengaruhi kondisi tanah dan badan jalan serta berpotensi menghambat proses pemulihan jalan setelah pengerjaan saluran.
“Cuaca juga harus menjadi pertimbangan. Kalau kondisi tidak memungkinkan, harus ada langkah antisipasi. Jangan sampai pekerjaan belum tuntas kemudian hujan turun dan akhirnya menimbulkan persoalan baru bagi warga,” tegasnya.
Sorotan tersebut disampaikan menyusul inspeksi mendadak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di kawasan Kedungmangu Timur dan Tenggumung Wetan, Rabu (26/8/2026).
Dalam sidak tersebut, Eri menemukan kondisi jalan bergelombang dan tidak merata akibat keterlambatan pengaspalan setelah pengerjaan saluran. Wali Kota kemudian memberikan tenggat waktu 1×24 jam kepada kontraktor untuk menyelesaikan pengaspalan.
Instruksi tersebut langsung ditindaklanjuti kontraktor dengan melakukan pengaspalan pada malam harinya sehingga masyarakat kembali dapat menggunakan jalan dengan lebih nyaman.
Achmad menilai kejadian tersebut harus menjadi evaluasi agar pengawasan proyek di Surabaya dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya memantau progres pekerjaan, tetapi juga memastikan kondisi jalan, kebersihan lokasi, keselamatan pengguna jalan dan faktor cuaca telah diperhitungkan.
“Jangan sampai harus menunggu wali kota sidak baru pekerjaan dibenahi. Pengawasan harus berjalan sejak awal sampai proyek benar-benar selesai dan kondisi lingkungan dikembalikan seperti semula,” katanya.
Ia menegaskan, pembangunan saluran memang penting untuk mendukung pengendalian banjir di Surabaya. Namun, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan kepentingan masyarakat yang terdampak selama proyek berlangsung.
“Proyek harus memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan risiko baru. Keselamatan dan kenyamanan warga harus menjadi prioritas,” pungkasnya.(KJT02)

