Sedekah Desa Bakalan Sumobito Jombang Meriah, Tradisi Potong Kerbau dan Wayang Kulit Tetap Dilestarikan

SIDOARJO (KABARJAWATIMUR.COM) – Tradisi sedekah desa atau ruwah desa di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang kembali digelar meriah tahun ini. Tradisi turun-temurun yang menjadi wujud syukur masyarakat pasca panen raya tersebut dipusatkan dengan berbagai kegiatan budaya dan religi selama lima hari penuh.

Panitia Pelaksana Sedekah Desa, Subianadi mengatakan, sedekah desa di wilayahnya bukan sekadar agenda tahunan biasa. Tradisi tersebut telah diwariskan dari generasi ke generasi dan selalu dilaksanakan setiap selesai panen raya.

“Acara sedekah desa (ruwah desa) di Desa Bakalan ini dilaksanakan setiap tahun secara turun-temurun dan dilaksanakan pasca panen raya. Jadi tidak tergantung pada bulan, pasca panen raya pasti dilaksanakan,” ujar Subianadi ke kabarjawatimur, Sabtu (16/5).

Menurutnya, terdapat dua tradisi utama yang selalu dipertahankan dalam pelaksanaan sedekah desa. Yakni penyembelihan kerbau serta pagelaran wayang kulit selama 24 jam.

“Untuk acaranya yang utama dari turun-temurun itu ada dua. Yang pertama penyembelihan kerbau, yang kedua hiburan wayang kulit 24 jam,” katanya.

Tahun ini, rangkaian kegiatan sedekah desa berlangsung selama lima hari dengan beragam hiburan dan kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat luas.

“Untuk kegiatan tahun ini ada lima hari. Yang pertama itu ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia), kemudian yang kedua pengajian, yang ketiga wayang kulit semalam suntuk, kemudian Sabtu itu libur dilanjut hari Minggu ada orkes dangdut, kemudian hari Senin-nya ada kuda lumping,” jelasnya.

Subianadi menambahkan, seluruh pelaksanaan kegiatan sedekah desa dibiayai secara swadaya oleh masyarakat Desa Bakalan melalui sistem urunan atau patungan warga.

“Untuk anggaran itu semua dari masyarakat. Jadi masyarakat itu sudah menyadari dari awal sampai saat ini istilahnya urunan warga,” tandasnya.

Tradisi sedekah desa tersebut menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal yang hingga kini masih terus dijaga masyarakat Desa Bakalan sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, sekaligus hiburan rakyat pasca panen raya. (KJT2)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *