Ning Lia Curi Perhatian di Golkar Jatim, Hadirkan Tausiyah Politik Kekinian

SURABAYA ( Kabarjawatimur.com) – Panggung politik di Kantor DPD Golkar Jawa Timur mendadak terasa berbeda. Di tengah dominasi warna kuning khas partai, Senator Jawa Timur, Lia Istifhama, tampil mencuri perhatian. Kerudung kuning cerah yang dikenakannya bukan sekadar simbol visual, melainkan representasi gagasan besar yang ia bawa politik dengan sentuhan seni.


Dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Bidang Kaderisasi dan Pemuda, sosok yang akrab disapa Ning Lia itu menghadirkan nuansa baru. Ia menggeser atmosfer rapat yang biasanya kaku menjadi lebih cair, komunikatif, dan inspiratif. Tak heran jika momen tersebut disebut sebagai “tausiyah politik kekinian”—sebuah pendekatan yang dekat dengan karakter generasi muda.


Bagi Ning Lia, politik tidak lagi bisa disampaikan dengan cara lama. Generasi milenial dan Gen Z membutuhkan pendekatan yang lebih humanis dan kreatif. Karena itu, ia memperkenalkan konsep “SENI” sebagai formulasi politik masa kini. S – Strategy (Strategi). Pesan politik harus dikemas cerdas dan kreatif, terutama di era media sosial. Bukan sekadar janji, melainkan narasi yang mampu membangun kepercayaan publik.

Lalu, E – Equity (Keadilan)
Setiap kebijakan harus berpijak pada prinsip keadilan. Negara hadir tanpa diskriminasi, memastikan semua lapisan masyarakat merasa dilindungi. Kemudian, N – Nation (Bangsa) dimana Politik harus kembali pada tujuan utamanya: mengabdi pada rakyat dan menjaga kedaulatan bangsa. Terakhir, I – Integrity (Integritas) yang menjadi fondasi utama. Konsistensi antara ucapan dan tindakan adalah kunci, meski strategi tetap perlu adaptif.


“Generasi muda hari ini adalah Syubbanul Yaum Rijalul Ghod. Politik tidak boleh kaku, harus ada sentuhan seni agar bisa menyentuh hati,” tegas Ning Lia.


Kehadiran Ning Lia menjadi energi baru bagi kader muda Partai Golkar Jawa Timur. Pendekatan “SENI” dinilai relevan untuk menjawab tantangan politik modern yang semakin digital dan berbasis narasi.


Panitia kegiatan, Aan Ainur Rofiq, menyebut konsep tersebut sebagai jembatan penting untuk merangkul generasi muda. “Pendekatan berbasis nilai dan narasi seperti ini sangat dibutuhkan agar politik terasa lebih dekat dan inklusif,” ujarnya.


Melalui gaya komunikasi yang segar dan visual yang kuat, Lia Istifhama menunjukkan bahwa politik tak melulu soal kekuasaan. Di tangannya, politik menjadi ruang ekspresi—tempat strategi, nilai, dan estetika berpadu. Sebuah “seni” yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menggerakkan generasi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *