Surabaya ( Kabarjawatimur.com) – Kota Surabaya kini memiliki julukan baru sebagai kota Medical Tourism setelah Pemerintah Kota Surabaya resmi meluncurkan program tersebut dalam acara di Balai Kota Surabaya, Selasa (21/4/2026).
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra, Hj. Luthfiyah menilai keberhasilan program tersebut harus didukung kesiapan sumber daya manusia, khususnya tenaga medis dan pegawai rumah sakit yang mampu berbahasa Inggris.
“Selain itu layanan di rumah sakit juga harus cepat, tepat, ramah, serta menerapkan budaya 3S, yakni senyum, sapa, dan salam,” ujar Luthfiyah di Surabaya, Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, sarana dan prasarana rumah sakit, terutama milik Pemkot Surabaya, juga harus lengkap dan modern. Menurutnya, perlu ada inovasi berupa alat-alat medis canggih yang belum tersedia di tempat lain, sehingga memberi nilai tambah bagi pasien.
Tak hanya untuk pasien, Luthfiyah juga menyoroti pentingnya fasilitas bagi keluarga atau pendamping pasien. Menurutnya, rumah sakit perlu menyediakan layanan pendamping spiritual dari berbagai agama, komunikasi intensif antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien, hingga layanan transportasi antar-jemput.
“Akses jalan menuju rumah sakit juga harus mudah dan aman. Serta suasana rumah sakit ada hiburan ringan yang tidak mengganggu pasien lain,” katanya.
Politisi Partai Gerindra itu juga mendorong rumah sakit menghadirkan layanan pengobatan dari metode tradisional hingga modern yang telah terbukti bermanfaat. Menurutnya, konsep tersebut bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan medis.
Selain itu, Luthfiyah juga mendorong penyempurnaan layanan digital dan sistem informasi rumah sakit sebagai bagian penting dalam mewujudkan Surabaya sebagai kota Medical Tourism. Menurutnya, pelayanan kesehatan berbasis teknologi akan memudahkan pasien dalam mengakses informasi, melakukan pendaftaran, hingga memperoleh layanan yang cepat dan transparan.
Ia menilai, sistem yang terintegrasi juga mampu meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit serta memberikan kenyamanan bagi pasien dari dalam maupun luar daerah yang datang berobat ke Surabaya.
Luthfiyah berharap hadirnya program Medical Tourism juga membuat warga Surabaya tidak perlu lagi berobat jauh ke luar negeri. Menurutnya, masyarakat cukup percaya berobat di Surabaya karena fasilitas dan pelayanan kesehatan di kota ini diharapkan sudah mampu melayani dengan baik.
“Harapan kami, warga Surabaya tidak perlu berobat jauh-jauh ke luar negeri, tetapi cukup percaya berobat di Surabaya dan sudah bisa terlayani dengan baik,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar kesejahteraan tenaga kesehatan dan seluruh pegawai rumah sakit tetap menjadi perhatian utama demi menunjang keberhasilan program Medical Tourism.
“Rumah sakit milik Pemkot juga harus berani melayani pasien dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri,” tegasnya.
Luthfiyah menambahkan, suasana rumah sakit harus diciptakan tenang dan nyaman agar pasien maupun keluarga merasa lebih baik selama menjalani perawatan.
“Tapi paling tidak, suasana yang diharapkan adalah tenang,” pungkasnya.

